Jadi Kekasih Soekarno, Heldy Tampil Beda (6)
Bung Karno kerap membawakan minyak wangi, satu set perhiasan serba berkilau bermata berlian hingga lembaran kain batik dan lukisan.
Penulis:
Achmad Subechi
Editor:
Ade Mayasanto
Laporan Wartawan Tribunnews.com Achmad Subechi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejak pernyataan cinta diutarakan, Bung Karno makin rajin datang ke rumah Heldy. Setiap kali apel, Bung Karno selalu memberi amplop berisi uang yang tidak sedikit. Kebiasan Bung Karno membagi-bagikan uangnya tak hanya ditujukan kepada Heldy saja. Ibu kandung Heldy, Hj Hamiah bila sedang berada di Jakarta, juga kecipratan rezeki. Bahkan, Bung Karno tak segan-segan mencium tangan Hj Hamiah jika keduanya bertemu di Jakarta.
Selain uang, Bung Karno kerap membawakan minyak wangi, satu set perhiasan serba berkilau bermata berlian hingga lembaran kain batik pilihan terbaik dan lukisan. Tak hanya itu saja. Heldy sempat diberi mobil Holden Premier warna biru telur asin untuk kegiatan sehari-hari.
Jika sedang apel dan Heldy tak ada di rumah, maka Bung Karno biasanya menunggu kekasihnya itu di sofa sambil tiduran. Kadangkala, Bung Karno tak segan-segan mengajak Djohan, kakak Heldy yang masih duduk di bangku SMA kelas 3, bermain panco di atas meja makan.
Setelah Bung Karno kalah dalam permainan, Djohan tak segan-segan membikinkan minuman buat Bung Karno. Minumannya sederhana, segelas teh, plus gula lalu ditambah es batu. "Good, bagus. Enak minuman ini."
Menjadi kekasih seorang presiden, membuat Heldy semakin ribet. Mau tidak mau, penampilan Heldy harus berubah. Setiap kali berangkat ke sekolah, Heldy menghias pergelangan tangannya dengan jam Rolex dan harum minyak wangi.
Di luar kelas, orang-orang Istana Kepresiden selalu memantaunya. Penjagaan pun semakin ketat. Sejumlah guru yang tadinya menaksir Heldy, mulai kehilangan nyalinya. Begitu juga dengan Adji, pria yang pernah jatuh hati dengan Heldy, mulai patah hati.
Adjie yang waktu itu masih mahasiswa, tak berani berbuat apa-apa begitu mengetahui sang kekasihnya berpaling kepada Bung Karno. Gara-gara itu, Erham, kakak kandung Heldy memutuskan agar adiknya sekolah di rumah dengan memanggil guru menambah pelajaran bahasa Belanda dan Inggris.
Bukan hanya itu, Heldy pun sering diajak Bung Karno bertemu dengan teman-temannya seperti Dasaad (pengusaha yang sering memberi bantuan finansial), Chaerul Saleh, J leimena dan Soebandrio.
Mereka setiap kali bertemu Bung Karno selalu memakai bahasa Belanda. Karena itu Heldy berinisiatif belajar bahasa Belanda, mendatangkan guru wanita dari Manado. Namanya Nyonya Woworuntu (seorang mantan walikota pertama di Manado. (Bersambung)