Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ical Tegaskan Golkar Setia Gabung Koalisi Merah-Putih

Aburizal Bakrie yang akrab dipanggil Ical, mengatakan partai berlambang pohon beringin itu akan tetap setia dengan koalisi Merah Putih.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Ical Tegaskan Golkar Setia Gabung Koalisi Merah-Putih
Tribunnews/Dany Permana
Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (dua kanan) mewakili Ketua Umum dan Ketua Partai pendukung menyerahkan piagam Koalisi Merah Putih Permanen kepada calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Senin (14/7/2014). Ketua dan Sekjen Partai Politik pendukung pasangan Prabowo-Hatta yaitu Gerindra, PKS, PPP, Golkar, PBB, PAN, dan Demokrat guna menguatkan komitmennya menandatangani nota kesepahaman Koalisi Permanen mendukung Prabowo-Hatta. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Golkar,  Aburizal Bakrie yang akrab dipanggil Ical, mengatakan partai berlambang pohon beringin itu akan tetap setia dengan koalisi Merah Putih.

Apapun keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas gugatan pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa besok, Kamis (21/8), menurut Ical tidak memengaruhi sikap partai di koalisi Merah Putih.

Kepada wartawan di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (20/8/2014), Ical menyebutkan bahwa koalisi Merah Putih yang mengusung pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa pada pemilu presiden (pilpres) 2014, hingga kini masih tetap solid.

"Koalisi merah putih adalah solid sekali, Golkar ada di sana, siapapun yang menang Golkar tetap di koalisi merah putih," katanya.

Pilihan Partai Golkar bergabung pada Koalisi Merah Putih memicu konflik internal, pasalnya sebagian kader tetap nekad mendukung Pasangan Joko Widodo (Jokowi) - Jusuf Kalla (JK), karena JK merupakan mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar. Ical pun memecat sejumlah kader partai yang mendukung Jokowi - JK, seperti Nusron Wahid, Agus Gumiwang dan Poempida Hidayatullah.

Pemecatan tiga orang itu justru memperbesar konflik internal Partai Golkar. Ketiga orang itu bersama sejumlah kader penentang Ical kemudian mengusung percepatan Musyawaran Nasional (Munas), yang salah satu agendanya adalah pelengseran Ical dan evaluasi koalisi.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas