Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Hidayat: Jika 1 Muharam Jadi Ukuran Rukyat dan Hisab Tidak Perlu Ribut

Kalau 1 Muharam bisa dimulai bersama kenapa kita ribut lagi dengan rukyat dan hisab

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Valdy Arief
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Hidayat: Jika 1 Muharam Jadi Ukuran Rukyat dan Hisab Tidak Perlu Ribut
TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO
HILAL TAK TERLIHAT - Seorang pegawai Badan Hisab dan Rukyat Sumsel melakukan pengamatan hilal dari atas Hotel Aryaduta Palembang, Jumat sore ( 27/6/2014). Pada pengamatan ini Hilal tidak dapat dirukyat dikarenakan hilal tertutup awan. hasil rukyat ini akan disampaikan ke Kementerian Agama Pusat untuk menjadi pertimbangan Menteri Agama dalam menetapkan awal Ramadhan 1435 H pada sidang isbat.TRIBUN SUMSEL/ABRIANSYAH LIBERTO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada acara open house di kediamannya daerah Kemang, Jakarta Selatan, Wakil Ketua MPR Republik Indonesia, Hidayat Nur Wahid menyatakan bahwa penyatuan penanggalan Islam dapat terjadi jika menggunakan tanggal 1 Muharam sebagai acuan.

"Kalau 1 Muharam bisa dimulai bersama kenapa kita ribut lagi dengan rukyat dan hisab," kata Hidayat Nur Wahid, Sabtu (18/7/2015).

Ia menerangkan bahwa Indonesia dalam menggunakan rukyat dan hisab termasuk tidak konsisten karena bisa serentak pada tahun baru Hijriah namun bertentangan pada penentuan awal dan akhir Ramadan.

Terkait wacana pembuatan kalender umat Islam yang disarankan Majelis Ulama Indonesia kepada Menteri Agama, Hidayat Nur Wahid berpendapat bahwa keberagaman dalam penentuan Idul Fitri merupakan hal yang biasa.

"Kita terbiasa dengan keragaman. Ada rukyat, ada hisab, itu sudah dari dulu. Sehari-hari saat Ramadan juga beragam. Ada tarawih yang 23 rakaat, ada tarawih 11 rakaat, ada 23 rakaat yang lebih cepat dari 11 rakaat," ujar mantan Presiden PKS.

Hidayat juga menjelaskan bahwa dalam penyepakatan penanggalan Islam akan lebih baik jika disepakati sebuah mekanisme yang tidak keluar dari ajaran agama.

"Tapi memang memerlukan dialog yang lebih berkenegarawan dan mementingkan kemaslahatan umum," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas