Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun

Curahan Hati Ali Imron dan Umar Patek Memaknai Jihad yang Sebenarnya

Ali Imron, dan terpidana 20 tahun kasus terorisme Umar Patek, secara mengejutkan tampil di acara seminar

Editor: Rachmat Hidayat
zoom-in Curahan Hati Ali Imron dan Umar Patek Memaknai Jihad yang Sebenarnya
Umar Patek 

TRIBUNNEWS.COM, MALANG-Terpidana seumur hidup kasus bom Bali I, Ali Imron, dan terpidana 20 tahun kasus terorisme Umar Patek, secara mengejutkan tampil di acara seminar mengenai deradikalisasi, di Hotel Savana, Malang, Senin (25/4/2016).

Dalam acara itu Ali Imron dan Umar Patek, mengungkapkan pernah menyampaikan penolakan aksi pengeboman di Bali.

"Aku dan Ali Imron menolak meski bukan pada saat yang bersamaan. Aku menyampaikan penolakan kepada Muklas, sebelumnya Ali juga menyampaikan. Tapi kami tidak pernah bertemu untuk sepakat menyampaikan penolakan itu," kata Umar Patek.

Muklas adalah terpidana mati kasus bom Bali I yang telah dieksekusi di Nusakambangan, bersama terpidana mati Imam Samudra, dan Amrozi.

Muklas dikenal sebagai kakak kandung Ali Imron, sedangkan Amrozi adalah adik kandung Ali Imron. Mereka dikenal sebagai trio bomber dari Lamongan, Jawa Timur.

Ali Imron dan Umar Patek menganggap kehadirannya dalam seminar itu sebagai momen luar biasa. Selama ini dalam penjara mereka hanya bergaul dengan orang itu-itu saja.

Sedangkan dalam acara seminar yang digelar Resiman Mahasiswa Mahasurya Jawa Timur itu mereka bisa bertatap muka langsung dengan orang lain.

Berita Rekomendasi

Apalagi, dalam kegiatan itu, mereka hadir sebagai pembicara yang menjadi pusat perhatian ratusan peserta.Ali Imron bahkan langsung menyampaikan rasa senangnya sesaat setelah berdiri di podium.

Beberapa waktu setelah ditangkap dan menjalani penyidikan di Polda Bali, ia sudah ingin bertemu dan berbica denga masyarakat luas. Satu hal yang ingin ia sampaikan adalah pemahaman tentang mujahid.

Ia beraharp, masyarakat umum mengetahui secara jelas aksi terorisme dan cara penanggulangannya. Harapan ini memang terdengar aneh.

Ali mengaku sempat menolak aksi tersebut. Sebelum menyiapakan pembuatan bom seberat sekitar 1 ton lebih, ia mengaku menyampaikan penolakan kepada Muklas. Namun pengeboman membawa korban 200 orang tewas itu tetap terjadi.

"Harapan ini (bertemu dengan masyarakat) sudah pernah saya sampaikan di Polda Bali saat penyidikan. Saat ini baru kesampaian," kata Ali Imron.

Umar Patek banyak menceritakan mengenai pandangan sempit soal mujahid. Menurut dia, mujahid yang sebenarnya bukan memerangi masyarakat sipil. Itu sebabnya, itu juga mengaku sempat menolak rencana pengeboman Bom Bali 1 kepada Muklas.

Menurutnya aksi mujahid tak selalu berhubungan dengan terorisme. Mujahid juga tak memusuhi masyarakat sipil, meskipun berbeda agama. Ia mencontohkan tentang perinkahannya dengan warga Filiphina pada 1998.

Sang istri adalah mualaf yang awalnya beragama Katolik. Mereka menikah di sebuah kamp. Dalam pernikahan itu, ia meminta seluruh keluarga sang istri yang beragama Katolik untuk hadir.

"Mereka heran dan khawatir dibunuh. Aku sampaikan, aku menjamin keamanan mereka semua. Harta mereka aman. Baru kemudian mertua aku mengiyakan," tambahnya.

Menurut Umar, cerita-cerita semacam ini yang jarang tersampaikan melalui media. "Ini semua cerita yang tidak pernah kalian dengar. Mungkin karena akses media yang sulit masuk," tambahnya.

Hal senada juga diakui Ali Imron. Ia menganggap dirinya dan para teroris lain adalah oknum dari mujahid. enurut dia, mujihad tetap diperlukan.

"Saya gini bukan menolak jihad total. Yang saya tolak adalah jihad yang salah. Republik Indonesia bisa merdeka juga karena ada jihad," kata Ali Imron. (surya/fla)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
×

Ads you may like.

© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas