Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres 2019

Alasan Bamsoet Dorong Jusuf Kalla Jadi Cawapres Jokowi

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo terus mendorong Jusuf Kalla (JK) menjadi cawapres Joko Widodo di Pilpres 2019.

Alasan Bamsoet Dorong Jusuf Kalla Jadi Cawapres Jokowi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) bersama Ketua DPR Bambang Soesatyo (kedua kiri), Ketua DPD Oesman Sapta Odang (kanan), dan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Heru Winarko (kiri) hadir saat pemusnahan narkotika di Silang Monas, Jakarta, Jumat (4/5/2018). Direktorat IV Mabes Polri beserta BNN melakukan pemusnahan 2.647 ton barang bukti jenis shabu hasil sitaan. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo terus mendorong Jusuf Kalla (JK) menjadi cawapres Joko Widodo di Pilpres 2019.

Bamsoet, sapaan Bambang Soesatyo, mengaku hal itu lantaran elektabilitas JK masih menempati ranking teratas.

Hal ini diungkapkannya usai hadir dalam diskusi bertema 'Rembug Nasional: Mewujudkan Pemilu 2019 yang Aman dan Bermartabat'.

"Survei menggambarkan pada kita, posisi Pak JK adalah menempati ranking teratas dan menurut saya pribadi pasangan Pak Jokowi yang ideal ke depan adalah Pak JK. Pak JK adalah dari Partai Golkar," ujar Bamsoet, di Hotel Ambhara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (8/5/2018).

Pernyataannya bahwa JK berasal dari Partai Golkar, dirasa adalah hal lumrah.

Baca: Kata Yusril, PBB Tidak Akan Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Ia menilai tak salah apabila suatu parpol mendorong dan menyodorkan nama dari parpolnya untuk mendampingi calon presiden.

Menurutnya, semua parpol memiliki kepentingan agar Ketua Umum atau tokoh parpolnya bisa terpilih di Pilpres 2019 mendatang.

Selain itu, ia berharap hal ini juga mampu mendongkrak elektabilitas partainya. Sehingga Bamsoet menampik bila ini dinyatakan sebagai kepentingan pribadi yang bersangkutan.

"Dengan harapan, partai ini terdorong mendongkrak elektabilitasnya jadi kalau Muhaimin kencang, Rommy kencang, Airlangga kencang dari Golkar. Zulhas kencang, PKS kencang, kemudian Pak Prabowo kencang. Itu bukan semata-mata untuk kepentingan pribadinya agar elektabilitasnya naik," pungkas Bamsoet.

Sebelumnya, nama JK memang masuk ke dalam sejumlah survei, meski masih ada polemik terkait sudah dua kali dirinya menjabat sebagai cawapres.

Survei Litbang Kompas menunjukkan elektabilitas JK sebagai cawapres Jokowi di posisi pertama sebesar 15,7 persen.

Setelah JK, responden memilih Prabowo Subianto (8,8 persen), dan Gatot Nurmantyo (5,3 persen). 

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas