Tribun

Pilpres 2019

Pilpres 2019, Indo Barometer: Semua Menunggu Sikap Prabowo Subianto

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai sebagai kunci peta politik dalam pemilu 2019 agar menjadi lebih terang.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Sanusi
zoom-in Pilpres 2019, Indo Barometer: Semua Menunggu Sikap Prabowo Subianto
Taufik Ismail
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai sebagai kunci peta politik dalam pemilu 2019 agar menjadi lebih terang.

Hari ini publik masih dibingungkan karena Prabowo Subianto tidak kunjung pasti terkait apakah dirinya maju sebagai calon presiden di Pilpres 2019 atau tidak.

"Jadi per hari ini menurut saya kita semua sedang menunggu Prabowo Subianto. Kalau dia sudah mengambil sikap, kita akan mendapatkan peta politik yang lebih jelas," papar Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, di Jakarta, Minggu (20/5/2018).

Begitu Ketum Gerindra itu tegas mendeklarasikan maju di Pilpres 2019, dengan sendirinya partai-partai lain juga akan ikut resmi mendeklarasikan. Namun saat ini Qodari menganggap Prabowo masih bingung mengingat pemilu 2019 kalkulasinya hingga pemilu 2024.

"Begitu Pak Prabowo mengumumkan, pasti yang lainnya juga akan mengerucut. Kenapa? Karena pilihannya udah nggak banyak kok, partai yang tersisa udah sedikit," sebut Qodari.

Penentuan calon wakil presiden masih yang paling rumit karena berpotensi berlanjut untuk tahun politik di 2024.

Namun beda cerita jika membicarakan tahun 2019, Prabowo masih menjadi calon kuat karena beberapa pertimbangan. Pertama, dari hasil survei ia mendapat tempat dua besar, artinya peluang menangnya juga besar.

Kedua, Prabowo memiliki partai sendiri dan memegang jabatan sebagai Ketua Umum.

"Orang punya elektabilitas tapi nggak punya partai, mau masuk lewat mana? Nggak bisa calon independen," jelas Qodari.

Ketiga ialah hanya perlu berkoalisi dengan satu partai saja untuk memenuhi syarat Prabowo dapat maju sebagai calon presiden di Pilpres 2019.

Qodari menegaskan bahwa kunci ini semua berada di Ketum Gerindra tersebut. Jika dirinya tidak maju, hampir dipastikan hanya akan terdapat dua pasang calon.

Namun jika resmi maju, hanya akan terdapat dua pasang dengan pilihan koalisi besar, atau tiga pasang dengan koalisi kecil-kecil.

"Jadi, Prabowo adalah kunci," ungkap Qodari.

Proses transformasi kepemimpinan dimulai pada 2019, dengan perhitungan proyeksi pemilu 2024. Hal itu yang menjadi penyebab mengapa proses seleksi capres dan cawapres dirasa sulit.

"Soalnya itungannya 2 pemilu, bukan satu pemilu," pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas