Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Minta Perlindungan Saksi, Pengamat: Strategi Hebat Kubu 02 Mainkan Narasi Politik Ketakutan

permintaan perlindungan saksi oleh koalisi 02 hanya halusinasi ketakutan yang dibangun sendiri.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Minta Perlindungan Saksi, Pengamat: Strategi Hebat Kubu 02 Mainkan Narasi Politik Ketakutan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Komisioner KPK periode 2011-2015 Bambang Widjojanto (kiri) memberikan keterangan sebagai saksi ahli pada lanjutan sidang perkara pengujian UU MD3 dengan objek pelaksanaan hak angket kepada KPK di Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (5/9/2017). Sidang lanjutan tersebut beragendakan mendengarkan saksi ahli dari pemohon yang berupa mendengarkan keterangan Bambang Widjojanto tentang pengawasan, proses penanganan perkara, dan pelemahan yang terjadi di KPK. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sedang memainkan narasi politik ketakutan di balik permintaan perlindungan saksi bagi yang akan bersaksi dalam persidangan sengketa pemilu presiden 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK).

Demikian disampaikan Pengamat politik, Leo Agustino kepada Tribunnews.com, Senin (17/6/2019).

Strategi itu juga menurut Leo Agustino juga dimainkan selama pilpres lalu oleh kubu 02.

"Bagai drama horor yang menakutkan. Semuanya dikonstruksi seolah-olah menjadi hal yang menakutkan dan mengerikan. Politik ketakutan, dalam penilaian saya, yang dibangun sebelum Pemilu oleh koalisi 02 membuat pesta rakyat menjadi “ladang” ketakutan dan horor," ujar Leo Agustino.

Ketakutan ini pula yang menurut dia, kembali dipakai, sehingga mereka harus meminta perlindungan saksi.

Padahal selama kontestasi Pilpres lalu, dia menilai, koalisi 01 tidak pernah melakukan upaya penyebaran politik ketakutan.

Baca: Setya Novanto Akan Mendapatkan Sanksi Karena Melarikan Diri

Justru kubu 01, dia menilai, selalu mendorong usaha persatuan dan kesatuan bangsa.

Berita Rekomendasi

Oleh karena itu, menurut dia, permintaan perlindungan saksi oleh koalisi 02 hanya halusinasi ketakutan yang dibangun sendiri.

Komisioner KPK periode 2011-2015 Bambang Widjojanto diambil sumpah sebelum memberikan keterangan sebagai saksi ahli pada lanjutan sidang perkara pengujian UU MD3 dengan objek pelaksanaan hak angket kepada KPK di Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (5/9/2017). Sidang lanjutan tersebut beragendakan mendengarkan saksi ahli dari pemohon yang berupa mendengarkan keterangan Bambang Widjojanto tentang pengawasan, proses penanganan perkara, dan pelemahan yang terjadi di KPK. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Komisioner KPK periode 2011-2015 Bambang Widjojanto diambil sumpah sebelum memberikan keterangan sebagai saksi ahli pada lanjutan sidang perkara pengujian UU MD3 dengan objek pelaksanaan hak angket kepada KPK di Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Selasa (5/9/2017). Sidang lanjutan tersebut beragendakan mendengarkan saksi ahli dari pemohon yang berupa mendengarkan keterangan Bambang Widjojanto tentang pengawasan, proses penanganan perkara, dan pelemahan yang terjadi di KPK. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)

"Saya menilai, permintaan perlindungan saksi oleh koalisi 02 hanya halusinasi ketakutan yang dibangunnya sendiri oleh politic of fear yang sedari awal mereka hembuskan. Mereka sekarang termakan oleh ulahnya sendiri. Tapi itulah politik, kadang senjata memakan tuannya," ucapnya.

Pengamat politik, Sebastian Salang melihat permintaan perlindungan saksi bagian dari strategi kubu 02 untuk membuat dan memunculkan isu-isu baru yang seksi.

Hal itu tidak lain untuk menjadi narasi yang menarik ditangkap publik yang awam di dunia politik dan hukum. Apalagi jika informasi yang diperoleh terbatas.

"Permohonan perlindungan terhadap saksi 02 di MK, adalah sebuah strategi yang hebat. Hal seperti ini sangat seksi untuk explorer lebih jauh oleh media, sehingga bisa menjadi opini yang dahsyat. Jika masyarakat termakan dengan opini seperti ini, terbentuk kemarahan kolektif dan ujung- ujunganya terjadi situasi huru hara atau kekacauan seperti pada 21/22 Mei yang lalu," ujar Sebastian Salang kepada Tribunnews.com.

Melalui isu ini, kata dia, ada banyak pesan yang bisa dibaca di balik itu.

Pertama, kata dia, melalui isu itu, publik bisa membaca bahwa seolah tim hukum 02 beserta saksinya berada di bawah tekanan atau intimidasi.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas