Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ini Alasan Kapolri Lakukan Diskresi Jelang Pelantikan Presiden

Oleh karena itu, pihak kepolisian pun melakukan diskresi dengan tak menerbitkan surat tanda terima pemberitahuan (STTP) unjuk rasa.

Ini Alasan Kapolri Lakukan Diskresi Jelang Pelantikan Presiden
Tribunnews.com/VINCENTIUS JYESTHA
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengaku tak ingin kecolongan dengan kemungkinan unjuk rasa yang berujung kerusuhan atau anarkis jelang pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengaku tak ingin kecolongan dengan kemungkinan unjuk rasa yang berujung kerusuhan atau anarkis jelang pelantikan Presiden-Wakil Presiden terpilih. 

Oleh karena itu, pihak kepolisian pun melakukan diskresi dengan tak menerbitkan surat tanda terima pemberitahuan (STTP) unjuk rasa. 

"Kita tidak ingin kecolongan demi bangsa dan negara, maka kita kembali ke peraturan. Supaya pelanggaran tidak terjadi kan ada dua langkah, pertama melakukan tindakan preventif dan kedua penegakan hukum," ujar Tito, di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (17/10/2019). 

Baca: Polisi Bakal Bubarkan Demonstrasi Mahasiswa Jika Berujung Anarkis

Baca: Akan Maju Sebagai Calon Bupati Cianjur 2020, Aldi Taher Minta Doa

Baca: Ada 6 Pemain Persib yang Dianggap Berbahaya oleh Persebaya, Siapa Mereka?

"Kalau kita dari intelijen sudah memahami ada potensi aksi anarkis ya masa didiamkan, masa kita reaktif baru menindak, nanti salah lagi. Oleh karena itu kita menggunakan diskresi, selain menghimbau juga tidak menerbitkan tanda terima pada saat ada unjuk rasa," imbuhnya. 

Ia pun mengimbau agar masyarakat tak melakukan mobilisasi massa. Pasalnya, saat mobilisasi massa dilakukan memiliki kecenderungan untuk berubah menjadi massa anarkis pada akhirnya. 

"Kita ingin mengimbau masyarakat untuk sebaiknya tidak melakukan memobilisasi massa, karena mobilisasi massa memiliki psikologi crowd, crowd mudah sekali berubah menjadi massa yang rusuh dan anarkis," jelasnya. 

Mantan Kapolda Metro Jaya itu kemudian mencontohkan dari pengalaman pihaknya dalam mengawal unjuk rasa beberapa waktu terakhir. 

Dimana saat pagi hari mahasiswa berunjuk rasa situasi masih  aman. Namun menjelang malam, mulai anarkis dengan adanya lemparan batu, aksi membakar, hingga merusak fasilitas umum. 

"Kalau seandainya selama ini unjuk rasanya aman-aman saja, kita no problem. Tapi ini demonya yang belakangan mohon maaf ada yang idealisme, ada juga pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan ini untuk kepentingan sendiri," tandasnya. 

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas