Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Polda NTT Gunakan Tiga Pendekatan Ini untuk Program Deradikalisasi

Aparat yang diterjunkan adalah yang sudah pernah membantu melakukan program deradikalisasi.

Polda NTT Gunakan Tiga Pendekatan Ini untuk Program Deradikalisasi
TRIBUNNEWS/VINCENTIUS JYESTHA
Kapolda NTT Irjen Pol Hamidin dan Kabid Humas Polda NTT AKBP Pol Johanes Bangun di Mapolda NTT, Rabu (4/12/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha 

TRIBUNNEWS.COM, KUPANG - Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Pol Hamidin mengaku memiliki tiga cara untuk melakukan deradikalisasi kepada kelompok radikal dan narapidana teroris (napiter). 

Pertama, Hamidin menggunakan pemuka agama. Pasalnya radikalisme terorisme selalu berkaitan dengan ideologi yang cenderung menggunakan simbol-simbol agama. 

"Karena simbol agama yang selalu digunakan (dalam radikalisme), maka yang kita gunakan dalam deradikalisasi adalah pemuka agama," ujar Hamidin, ketika ditemui di Polda NTT, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/12/2019). 

Ia mengatakan, pemuka agama yang dipilih adalah mereka yang dapat diterima oleh kelompok radikal tersebut.

Karena, kata dia, kelompok-kelompok tersebut tentu tak akan mau menerima sembarang pemuka agama.

Baca: Generasi Milenial Jadi Pengebom, Deradikalisasi harus Dievaluasi Jadi Humanisasi

Bila napiter adalah target deradikalisasi, maka Hamidin menggunakan cara kedua yakni melalui insider. Insider adalah orang-orang yang dulunya radikal dan sudah dibina oleh pemerintah dalam program deradikalisasi. 

"Dia (insider) sudah kembali ke ideologi dasar yakni ideologi negara, dan kita gunakan dia untuk men-deradikalisasi kelompoknya. Insider ini sering kita sebut predator untuk para radikal sendiri," kata dia. 

Kemudian cara ketiga adalah dengan menerjunkan aparat. Mantan direktur pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tersebut menjelaskan aparat yang diterjunkan adalah yang sudah pernah membantu melakukan program deradikalisasi. 

"Biasanya mereka punya hubungan-hubungan baik dan emosional dengan mantan napiter. Ini (deradikalisasi) dilanjutkan terus dimanapun dia (aparatus) bertugas. Katakanlah dia dulu mengabdi di Densus 88 atau BNPT, kemudian hari ini dia masih tetap melakukan komunikasi intens pada mantan-mantan napiter," tandasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas