Tribun

Virus Corona

Antisipasi Kelangkaan Pangan, Akademisi Diminta Buat Terobosan di Bidang Pertanian

salah satu yang menjadi perhatian adalah ketersediaan kedelai yang notabene menjadi bahan baku pembuatan sejumlah makanan, seperti tempe.

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Johnson Simanjuntak
Antisipasi Kelangkaan Pangan, Akademisi Diminta Buat Terobosan di Bidang Pertanian
IST
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia, Ikhsan Abdullah, meminta kalangan akademisi di bidang pangan dan pertanian membuat terobosan untuk mengantisipasi terjadi kelangkaan pangan.

Menurut dia, bidang pangan dan pertanian harus mendapatkan perhatian, bagaimana Indonesia yang memiliki universitas terkemuka dan fakultas-fakultas pertanian, lahan yang sangat luas serta sumber daya manusia yang cukup, akan tetapi masih terus bergantung kepada negara lain.

“Seharusnya kita dapat mengurangi ketergantungan tersebut, setidaknya petani dapat mengurangi angka import yang sangat besar tersebut," kata dia, di diskusi virtual, Jumat (12/6/2020) malam.

Baca: PKS: Hentikan Pembebasan Lahan Lokasi Pembangunan Bendungan Ibu Kota Negara, Rakyat Sedang Susah

Dia menjelaskan salah satu yang menjadi perhatian adalah ketersediaan kedelai yang notabene menjadi bahan baku pembuatan sejumlah makanan, seperti tempe.

Menurut data statistik yang dirilis oleh Departemen Pertanian AS (USDA), impor kedelai Indonesia diperkirakan mencapai 2,75 juta ton.

Pada periode Oktober 2017/2018, impor kedelai mencapai 2,5 juta ton. Indonesia sendiri merupakan pasar ekspor pertanian AS ke-9 pada 2017, dengan nilai total US$2,9 Milliar atau ekuivalen dengan Rp. 40.600.000.000.000,-

Sehingga, Indonesia harus mengeluarkan devisa besar, padahal konon dahulu nenek moyang kita sebagai bangsa pemakan tempe dapat memenuhi sendiri kebutuhan kedelainya.

"Devisa negara untuk belanja kedelai dapat digunakan memperluas areal penanaman kedelai yang dapat memberikan pekerjaan untuk masyarakat demi meningkatkan pendapatan petani kedelai dan industri pertanian" kata Direktur Eksekutif Indonesia Halal Watch itu.

Untuk itu, demi menjaga ketahanan pangan, maka perlu didorong pengrajin tempe sebagai industri kecil rumahan yang berbasis halal telah mampu bertahan dan tetap memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pemenuhan gizi seimbang.

Salah satu indikasi pertumbuhan tersebut adalah berdirinya rumah tempe A Zaki, di Perumahan Bogor Raya Permai Blok FG, Jl. Bojong Neros Curug, Bogor, Jawa Barat.

"Harapan saya supaya ke depan menjadi model prototype industry kecil rumahan khususnya pabrik tempe ditanah air," tambahnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi  mengingatkan soal risiko krisis pangan yang terjadi sebagai dampak dari pandemi corona.

Hal ini merespons Organisasi Pangan Dunia (FAO) yang sudah mengingatkan potensi krisis pangan di tengah corona.

Selain memastikan ketersediaan bahan-bahan pokok, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menjaga daya beli masyarakat dan memberikan bantuan bahan pokok yang amat dibutuhkan di tengah kebijakan tanggap darurat Covid-19 ini.

Jokowi juga sempat memberikan pesan khusus kepada Menteri Dalam Negeri Jenderal Polisi (Purn) Muhammad Tito Karnavian untuk mengingatkan para kepala daerah di tengah wabah Covid-19 yang mengancam ketersediaan pangan.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas