Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Nasib WNI di Kapal Asing

DFW Indonesia Minta Kepolisian Usut Tuntas Kematian 5 ABK KM Starindo Jaya Maju VI

Abdi mengatakan kematian lima ABK diatas kapal ikan Indonesia ini menimbulkan beragam spekulasi.

DFW Indonesia Minta Kepolisian Usut Tuntas Kematian 5 ABK KM Starindo Jaya Maju VI
Tribun Manado
KM Starindo Jaya Maju VI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia Moh Abdi Suhufan meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas penyebab kematian lima orang awak kapal perikanan yang ditemukan dalam operasi yustisi di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (17/9) kemarin.

Abdi mengatakan kematian lima ABK diatas kapal ikan Indonesia ini menimbulkan beragam spekulasi. Karenanya perlu ada penyelidikan secara tuntas mengenai penyebab kematian mereka.

"Agar tidak menimbulkan spekulasi, polisi perlu melakukan penyelidikan secara tuntas dan mengungkap penyebab kematian tersebut. Apakah karena sakit, kecelakaan kerja atau penyebab lain seperti kekerasan," ujar Abdi, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (18/9/2020).

Baca: Nahkoda Kapal Ikan KM Starindo Jaya Maju V Masukkan Mayat ABK ke Freezer, Apa Alasannya?

Baca: Indonesia Tekan China Investigasi Menyeluruh Kasus ABK WNI di Kapal Ikan RRT

Baca: Lima Jenazah ABK yang Ditemukan dalam Freezer Diduga Tewas Usai Pesta Miras

Menurut penelusuran DFW Indonesia, kapal KM Starindo Jaya Maju VI dimiliki oleh PT Starindo Jaya Maju dengan kapasitas 195GT dengan alat tangkap pukat cincin dan melakukan operasi penangkapan ikan di Samudera Hindia.

Atas kematian ABK tersebut, Abdi mengatakan pihaknya meminta kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan agar memastikan bahwa semua ABK yang bekerja di kapal tersebut telah memiliki Perjanjian Kerja Laut (PKL) dan mengikuti program asuransi mandiri yang dibayarkan oleh perusahaan.

"Pemenuhan hak-hak korban sesuau ketentuan pemerintah perlu diperhatikan dan menjadi prioritas oleh PT Starindo Jaya Maju," kata dia.

Menurut Abdi, makin terbatasnya pekerjaan di perkotaan terutama di masa pandemi saat ini, membuat pekerjaan menjadi ABK kapal ikan menjadi salah satu pilihan rasional.

"Dari keterangan polisi bahwa ada dugaan kapal tersebut kelebihan ABK mengindikasikan bahwa minat menjadi ABK saat ini cukup tinggi," jelas Abdi.

Walaupun demikian, dia menegaskan perusahaan dan nakhoda perlu tetap memperhatikan dan menjamin aspek keselamatan dan kesehatan kerja para ABK tersebut. "Pekerjaan diatas kapal ikan sangat beresiko tinggi sehingga ABK perlu mendapat perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja," tandasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas