Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kelompok Bersenjata di Papua

13 Lubang Peluru Ditemukan di Lokasi Penembakan Pendeta Yeremia, Satu Proyektil Diuji Balistik

Awi mengklaim hanya satu proyektil peluru yang ditemukan penyidik di lokasi kejadian.

13 Lubang Peluru Ditemukan di Lokasi Penembakan Pendeta Yeremia, Satu Proyektil Diuji Balistik
Tribunnews.com/Igman Ibrahim
Brigjen Awi Setiyono 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Igman Ibrahim

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Karo Penmas Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyebutkan penyidik menemukan 13 lubang peluru yang berada di lokasi penembakan pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa Kabupaten Intan Jaya pada 19 September 2020 lalu.

"Kalau dari olah TKP sih ini dari penomerannya sekitar 13 ya bekasnya, lubang-lubang tembakan itu ada 13. Termasuk yang di tubuh yang bersangkutan kan nanti kita lihat apa itu masuk ke tubuh almarhum itu masuk ke lubang sini. Semua kan harus di adegan rekonstruksi," kata Awi di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (3/11/2020).

Namun demikian, Awi mengklaim hanya satu proyektil peluru yang ditemukan penyidik di lokasi kejadian. Barang bukti itu pun tengah di uji balistik ke laboratorium forensik.

"Sudah diolah TKP. Kan sudah dikirim ke laboratorium forensik, tapi kan semua harus disesuaikan. Karena kalau kamu menguji balistik itu nanti ujungnya juga harus diketahui. Itu barangnya banyak, materialnya dari mana. Kalibernya berapa, kemudian senjatanya ini diperkirakan apa. Jadi rangkaiannya itu ada," jelasnya.

Di sisi lain, pihaknya masih tengah berupaya untuk melakukan autopsi kepada jenazah korban. Nantinya, sejumlah temuan dan hasil penyidikan akan dianalisa oleh penyidik.

"Nanti kalau tim dateng ke sana dengan dokter forensik, kemudian akan dibongkar, kemudian akan dilakukan autopsi dan nanti dari situ kita akan tahu akibat kematiannya almarhum itu gara-gara apa, tentunya dari situ nanti akan kita masukan dalam berkas perkara," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Tim Pemantauan dan Penyelidikan Kasus Kematian Pendeta Yeremia Zanambani dari Komnas HAM RI dan Kantor Perwakilan Komnas HAM Papua mengungkap fakta yang menguatkan dugaan keterlibatan oknum aparat dalam tewasnya Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa Kabupaten Intan Jaya pada 19 September 2020 lalu.

Baca juga: 7 Rekomendasi Komnas HAM Terkait Kasus Tewasnya Pendeta Yeremia Zanambani

Dalam kesimpulan timnya, Komisioner Komnas HAM RI yang memimpin langsung tim tersebut yakni Choirul Anam mengungkapkan Pendeta Yeremia Zanambani sempat mengungkapkan ke dua orang saksi terkait oknum aparat yang diduga sebagai pelaku yang menyiksanya sebelum ia wafat.

Anam mengatakan Pendeta Yeremia mengungkapkan hal tersebut kepada dua orang saksi setelah istri Yeremia menemukannya dalam kondisi terluka di kandang babi sekira pukul 17.50 WIT atau kurang lebih jam 18.00 WIT pada 19 September 2020.

Berdasarkan temuan timnya juga, kata Anam, Yeremia baru wafat lima sampai enam jam setelah itu akibat kehabisan darah yang bersumber dari sejumlah luka termasuk luka tembak di tubuhnya.

Halaman
12
Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas