Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Eks Napiter: Pelaku Teror Punya Dua Pilihan Momentum Sebelum Beraksi

Haris Amar Falah menyebut para teroris punya dua pertimbangan dalam melakukan aksinya. Antara lain menciptakan momentum, dan bertemu dengan momentum.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Eks Napiter: Pelaku Teror Punya Dua Pilihan Momentum Sebelum Beraksi
Ist
Ilustrasi: 22 orang tersangka tindak pidana terorisme jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang dipindahkan dari Jawa Timur telah tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten pada Kamis (18/3/2021) siang. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan narapidana terorisme, Haris Amar Falah menyebut para teroris punya dua pertimbangan dalam melakukan aksinya. Antara lain menciptakan momentum, dan bertemu dengan momentum tersebut.

Sebagai informasi, Haris merupakan eks napiter yang ditangkap aparat keamanan saat latihan militer di Aceh pada 2010.

Ia kemudian divonis 4,5 tahun. Kini Haris Amar Falah sudah mengikrarkan diri setia pada NKRI.

"Aksi teror ini memang dua, pertama menciptakan momentum. Kedua dia akan bertemu dengan momentum," kata Haris dalam diskusi daring Polemik Trijaya bertajuk "Bersatu Melawan Teror", Sabtu (3/4/2021).

Baca juga: Cegah Terorisme, Warga Harus Peka Terhadap Lingkungan Sekitar Tempat Tinggal

Baca juga: Mertua Terduga Teroris di Surabaya Nyaris Pingsan Saat Rumahnya Digeledah Densus 88

Haris mengaku kadang kala para pelaku teror bertemu dengan dua momentum tersebut, yakni menciptakan dan dipertemukan sebuah momentum.

Momentum yang dimaksud yakni menciptakan atau dipertemukan dengan isu yang berkembang di masyarakat, kemudian dilihat oleh kacamata orang radikal sebagai masalah ketidakadilan.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun Haris mengatakan dipertemukan dengan momentum akan lebih dipilih oleh para pelaku teror.

"Boleh jadi dua-dua itu bisa terjadi, mungkin orang menciptakan sebuah momentum karena ada isu yang dalam kacamata orang radikal misal ketidakadilan. Momentum itu kalau diciptakan mahal. Mereka lebih memilih bertemu dengan momentum," tuturnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas