Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Mimpi 20 Tahun Warga Indonesia Bangun Masjid Indonesia Pertama di London

Ia menyadari pembangunan masjid ini memerlukan kerja keras, namun ia optimistis masjid Indonesia di London ini bisa diwujudkan. 

Mimpi 20 Tahun Warga Indonesia Bangun Masjid Indonesia Pertama di London
SHUTTERSTOCK
Ilustsrasi. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ketua panitia pembangunan Indonesian Islamic Centre (IIC) Eko Kurniawan bercerita bagi warga Indonesia di London, satu rumah di Wakemans Hill Avenue, London utara, bukan sekadar rumah. 

Sejak 2003, ucap Eko, rumah ini telah menjadi pusat kegiatan komunitas seperti pengajian pekanan, pendidikan Quran bagi anak-anak dan remaja, kajian tafsir, hingga tempat untuk kegiatan kesenian seperti rebana. 

"Rumah dua lantai ini biasa disebut Indonesian Islamic Centre (IIC). Ukurannya tak terlalu besar, dan karenanya hanya bisa menampung maksimal 100 orang. Sangat jauh dari mencukupi," ujar Eko dalam keterangan kepada Tribunnews, Kamis (29/4).

Eko berujar hal ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan keinginan memiliki masjid sendiri yang representatif, yang punya corak dan penampakan fisik seperti masjid, bukan seperti rumah biasa, seperti yang ada saat ini.

“Saat ini fasilitas dan sarana yang ada rumah di Wakemans Hill Avenue tersebut memang sudah tidak lagi memadai lagi,” ujarnya

Apalagi, properti di Wakemans Hill Avenue ini, terang Eko, berada di permukiman penduduk, sehingga izin yang diberikan sebatas rumah tinggal, bukan untuk aktivitas publik ataupun kegiatan komunitas. 

“Konsekuensinya, kami tidak bisa menggunakan properti ini untuk kegiatan keumatan secara maksimal,” lanjut Eko.

Baca juga: 1,5 Juta Jamaah Kunjungi Masjidil Haram Makkah Selama Sepuluh Hari Pertama Ramadan

Keterbatasan izin, sarana yang tidak memadai dan animo tinggi warga Indonesia dalam mengikuti kegiatan-kegiatan agama, membuat sejumlah warga Indonesia akhirnya memutuskan membentuk panitia baru pembangunan masjid, dengan harapan kerja-kerja mewujudkan masjid yang representatif bisa lebih cepat diwujudkan. 

Rencananya, rumah yang selama ini menjadi pusat kegiatan warga Indonesia di Wakemans Hill Avenue akan dijual dan dana dari penjualan dipakai untuk membeli properti lain yang lebih representatif.

Dalam hitungan panitia, nilai jual properti ini sekitar £500.000. Panitia juga memiliki dana sekitar £250.000 yang didapat dari sumbangan warga, baik yang ada di Inggris, negara-negara lain, maupun di Indonesia. 

Halaman
123
Ikuti kami di
Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas