Tribun

Seleksi Calon Hakim Agung

Calon Hakim Agung Brigjen Tiarsen Ditanya Cara Hindari Konflik Kepentingan dalam Peradilan Militer

Calon Hakim Agung Kamar Pidana Militer Brigjen TNI Tiarsen Buaton ditanya soal cara menghindari konflik kepentingan dalam peradilan militer.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Calon Hakim Agung Brigjen Tiarsen Ditanya Cara Hindari Konflik Kepentingan dalam Peradilan Militer
istimewa
Calon Hakim Agung Pidana Militer yang saat ini menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Hukum Militer Ditkumad, Brigjen TNI Tiarsen Buaton, (kanan) dan Anggota Komisi Yudisial Amzulian Rifai (kiri) dalam Wawancara Terbuka Calon Hakim Agung Tahun 2021 Hari Ke-4 yang disiarkan di kanal Youtube Komisi Yudisial pada Jumat (6/8/2021). 

"Ya, maksud saya begini, Pak, ini semua orang militer. Satu korps. Paham maksud saya Bapak? Orang TNI semua. Dari tersangkanya, penyidiknya, penuntutnya, hakimnya, ini satu korps. Bagaimana kemudian menghilangkan conflict of interest tadi? Bagaimana hakim menjadi independen? Tidak terintervensi karena ini anak buah saya, ini dulu teman saya, dan seterusnya," tanya Mukti.

Mendapat pertanyaan tersebut, Tiarsen mengatakan apabila ada konflik kepentingan misalkan terdakwa adalah temannya maka ia harus mengundurkan diri sebagai hakim yang bertugas dalam perkara tersebut.

Saat Tiarsen ingin menjelaskan lagi terkait bahayanya konflik kepentingan tersebut, Mukti kembali memotong.

"Itu kan teman Bapak juga, sesama militer kan temannya juga berarti? Bukan? Kalau sama-sama militer itu apa bukannya temannya semua? Satu korps kan?" tanya Mukti.

Baca juga: Majelis Hakim PN Jakarta Selatan Vonis Mantan Direksi Tiga Pilar Empat Tahun Penjara

Tiarsen menjawab status tersebut sebetulnya juga berlaku di sipil.

"Itu kan hampir sama juga di orang sipil itu, misalnya itu tidak bisa karena status sipil dan status militer dan sebenarnya peradilan militer itu di negara manapun ya seperti itu," kata Tiarsen.

Belum selesai kalimat Tiarsen, Mukti memotong lagi.

"Pertanyaan saya tadi, cara menghindari conflict of interestnya bagaimana caranya?" tanya Mukti.

"Sebagaimana saya katakan tadi misalnya dalam hal pertemanan, misalnya dulu dia pernah menjadi mahasiswa saya, mungkin ada hubungan kedekatan, sehingga saya harus mengundurkan hakimnya dan hakim ketua akan mencari hakim yang lain. Saya pikir itu konkretnya," jawab Tiarsen.

Mukti pun mencukupi pertanyaannya karena waktu telah habis.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas