Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Ingin Ubah Anggapan Nelayan Masyarakat Miskin, Ini yang Dilakukan Kementerian BUMN

Erick mengatakan bahwa keberadaan Kementerian BUMN bersama perusahaan BUMN siap hadir untuk memberikan dukungan konkret

Ingin Ubah Anggapan Nelayan Masyarakat Miskin, Ini yang Dilakukan Kementerian BUMN
Kementerian BUMN
Menteri BUMN Erick Thohir 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, anggapan nelayan yang identik dengan masyarakat miskin harus diubah.

Menurutnya, profesi nelayan dikenal akan karakternya yang tangguh dan tak mudah menyerah.

Saat dirinya mengunjungi kampung nelayan di desa Blanakan, Subang, Jawa Barat, Erick mendengarkan cerita Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) dan para nelayan di sana.

Yakni cerita bagaimana mereka tetap melaut dan berjuang di masa pandemi.

Mereka tak berhenti mencari ikan demi memenuhi kebutuhan kita akan sumber protein penting ini.

Baca juga: Erick Thohir Berambisi Menjalankan Swasembada Gula Meski Diakuinya Tidak Mudah

Seusai mendengar cerita para nelayan, Erick mengatakan bahwa keberadaan Kementerian BUMN bersama perusahaan BUMN siap hadir untuk memberikan dukungan konkret.

Dukungan tersebut tentunya agar perjuangan nelayan yang ingin lebih berdaya secara ekonomi cepat terwujud.

“Jadi sudah sepantasnya, kami dan perusahaan BUMN harus mensupport dan mencari solusi atas problem yang dihadapi,” papar Erick dalam keterangannya, Sabtu (28/8/2021).

“Dengan karakter tangguh para nelayan, saya yakin mereka butuh pendamping agar lebih berdaya dan kaya," sambungnya.

Erick melanjutkan, saat ini untuk di Blanakan, tak kurang dari 3 ribu nelayan menggantungkan hidup dalam menjual berbagai hasil laut, yang memiliki nilai ekonomis tinggi, dan kemudian dilelang di pusat pelelangan ikan setempat.

Dengan dukungan sekitar 250 kapal berukuran 5 gross tonnage (GT) dan 64 kapal di atas 5 GT, setiap harinya, tergantung musim, tak kurang dari 10 ton hasil laut tersebut mampu dipanen.

Bahkan, pada bulan Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, dan November yang merupakan puncak produksi satu hari bisa mencapai 50 ton.

"Indonesia punya visi Laut Masa Depan Bangsa. Hal itu menekankan bahwa laut harus bisa menopang pembangunan nasional, sekaligus meningkatkan kualitas hidup bangsa  di masa sekarang dan akan datang,” papar Erick.

“Problem nelayan mengenai bahan bakar, dana untuk meningkatkan kapasitas kapal agar hasil tangkap bertambah, pengolahan, atau percepatan pembangunan gudang beku siap dicarikan solusi sehingga mereka merasakan bahwa pemerintah dan BUMN hadir," pungkasnya.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas