Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Asa Para Guru Honorer, Pahlawan yang Ditempa di Negeri Sendiri

Para guru honorer yang terus berjibaku dengan nasib mereka, mencari secercah harapan agar pengabdian mereka dihargai, ini kisah mereka.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Asa Para Guru Honorer, Pahlawan yang Ditempa di Negeri Sendiri
ISTIMEWA
Siti Fatimah, seorang guru honorer kelas 1 SDN 3 Rejo Binangun saat mengajar murid-muridnya. 

Sempat Tak Lolos PPPK

Novel Tri Nuryana Harahap (42) guru honorer
Novel Tri Nuryana Harahap (42) guru honorer di Wajo, Sulawesi Selatan, bersama anak-anak didiknya di SMAN 9 Wajo.

Perjuangan 20 tahunnya baru terbayar di tahun 2021, Novel dinyatakan lolos PPPK.

Novel menceritakan melalui PPPK dirinya melamar bukan ke sekolah negeri namun Sekolah Luar Biasa (SLB).

Saat ditanya mengapa dirinya memilih SLB, dirinya pun memberikan alasan yang sangat menyentuh, bahwa hal tersebut adalah cita-citanya sejak dulu, menjadi guru untuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

“Kebetulan formasi PPPK ini ada SLB-nya, maka gayung bersambut jadinya, tanpa pikir panjang saya langsung menuju ke SLB walaupun semua orang mempertanyakannya,” ujar Ketua Forum Guru Tenaga Kependidikan Honorer Non Kategori (GTKHNK) Wajo tersebut.

Baginya mengajar anak-anak berkebutuhan khusus menjadi keistimewaan tersendiri, sekecil apapun ilmu yang diberikan akan lebih mendatangkan manfaat.

“Walaupun saya menjadi orang terkenal punya uang banyak sekalipun saya tetap mau menjadi seorang guru, dengan mengajar ke anak-anak didik itu yang akan mendatangkan amal jariyah, mengalir terus,” imbuhnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Dirinya pun berharap ke depan Pemerintah Indonesia lebih memperhatikan kesejahteraan para guru honorer.

“Belajarlah dari sejarah 'jas merah', jangan sekali-sekali melupakan sejarah, karena berdirinya Indonesia itu ditopang dari adanya para guru, pengorbanan para guru.”

Cerita Asa dari Gunungkidul, DIY

iftin (54), seorang guru honorer asal Gunungkidul,
Fiftin (54), seorang guru honorer asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang sudah 14 tahun mengabdi, mengajar anak-anak didik.

"Saya itu kok menikmati sekali peran saya jadi guru, walaupun ya gajinya sedikit, tapi selalu ada rasa senang, motivasi juga semangat ketika bertemu anak-anak didik."

Kalimat bernada ramah tersebut dituturkan oleh Fiftin (54), seorang guru honorer asal Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang sudah 14 tahun mengabdi.

Baca juga: FSGI Ungkap Kendala Guru Honorer Berusia Tua Jadi PNS

Fiftin termasuk satu di antara banyak guru honorer yang kandas dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2021 lalu.

Pengajar kelas 2 SD tersebut menjadi guru honorer sejak Februari 2007.

"Saya dulu ngajar di daerah ndeso (pedesaan), pelosok sekali di Bulu, perjalanan 9 kilometer (km) dari rumah," ujarnya saat berbincang dengan Tribunnews.com, Sabtu (9/10/2021).

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas