Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Untar: Ketangguhan Remaja Perlu Dibangun untuk Cegah Pengaruh Negatif

Universitas Tarumanagara berupaya bantu para remaja agar tangguh melalui Pengembangan Resiliensi Remaja di Sekolah Menengah Atas di Era Industri 4.0.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Untar: Ketangguhan Remaja Perlu Dibangun untuk Cegah Pengaruh Negatif
Istimewa
Universitas Tarumanagara berupaya membantu para remaja agar tangguh, melalui Pengembangan Resiliensi Remaja di Sekolah Menengah Atas di Era Industri 4.0. yang merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Fransisca Iriani R Dewi mengatakan resiliensi atau ketangguhan menjadi modal untuk menghadapi pengaruh negatif.

Remaja, menurutnya, harus tangguh dalam menghadapi tantangan yang dapat muncul.

"Ketangguhan remaja, merupakan modal dalam menghadapi kesulitan, mengelola stres, terhindar dari kondisi depresi, dan perilaku negatif,” ujar Fransisca melalui keterangan tertulis, Senin (27/12/2021).

Universitas Tarumanagara berupaya membantu para remaja agar tangguh, melalui Pengembangan Resiliensi Remaja di Sekolah Menengah Atas di Era Industri 4.0. yang merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Baca juga: Dapat Pendanaan dari Kemendikbudristek, Untar Dampingi Ratusan UMKM di Belitung

Baca juga: Rektor Untar: Riset Dosen Harus Bermanfaat untuk Masyarakat

Program PKM ini merupakan implementasi atas hasil penelitian tim yang telah dilakukan selama 2 tahun pada 27 sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di 17 kota di Indonesia.

Dalam program Pengabdian kepada Masyarakat ini, 65 remaja dari SMA Negeri I dan SMA Negeri 2 Tanjung Pandan Kabupaten Belitung Propinsi Kepulauan Bangka Belitung mengikuti program PKM.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketua tim Fransisca Iriani R. Dewi didampingi mahasiswa dan tenaga administrasi menggunakan metode intervensi psikoedukasi dan Journal.

"Intervensi bertujuan untuk meningkatkan resiliensi pada remaja," kata Fransisca.

Di SMA Negeri 2, Rita Markus Idulfiastri, dibantu dua mahasiswa dan satu tenaga administrasi melakukan kegiatan yang sama.

Kegiatan PKM diawali dengan pre-test, administrasi kuesioner dari Skala Resiliensi Remaja dan Skala Kepuasan Hidup.

"Resiliensi menjadi penting untuk menghadapi tantangan dan mengontrol situasi," tutur Rita.

"Mengembangkan resiliensi tidak berarti masalah akan berhenti atau menyelesaikan masalah, namun resiliensi akan mengubah cara merespon, berperilaku, dan bertahan saat menghadapi masalah," tambah Rita.

Baca juga: Rektor Untar: Potensi Perguruan Tinggi Harus Dikenal oleh Publik

Baca juga: Jokowi Minta Lulusan Untar Ciptakan Lapangan Kerja Baru

Tahap selanjutnya, peserta mengisi workbook sebagai bentuk refleksi harian, dalam rangka pengembangan resiliensi.

Workbook dikumpulkan ke guru penanggung jawab kegiatan PKM atau wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas