Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Komite Pedagang Pasar: Emak- emak Menjerit Harga Migor Melambung

Ketua Umum Komite Pedagang Pasar (KPP), Abdul Rosyid Arsyad, mengungkap fenomena langkanya minyak goreng di pasar.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Komite Pedagang Pasar: Emak- emak Menjerit Harga Migor Melambung
Ist
Ketua Umum Komite Pedagang Pasar (KPP), Abdul Rosyid Arsyad, mengungkap fenomena langkanya minyak goreng di pasar. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Komite Pedagang Pasar (KPP), Abdul Rosyid Arsyad, mengungkap fenomena langkanya minyak goreng di pasar.

Menurut dia, pedagang bingung harga minyak goreng murah tetapi langka. Sementara itu, harga minyak goreng mahal ada barangnya.

"Jadi modal terkuras untuk belanja minyak goreng, mendag dan menko perekonomian harus bertanggung jawab untuk mengendalikan harga yang tidak membebani pedagang dan masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, pedagang harus menaikan harga barang dagangannya, atau mencari cara untuk menipiskan modal.

Baca juga: Cegah Kelangkaan Terjadi Lagi, Komisi VI Minta Kasus Mafia Minyak Goreng Dituntaskan

Sehingga, kata dia, tidak berpengaruh besar terhadap harga barang yang dijualnya.

Berdampak keuntungan pedagang tergerus, karena harus mengeluarkan modal yang lebih untuk minyak goreng.

Begitu juga masyarakat yang sudah terbiasa menggunakan minyak goreng tidak mungkin beralih ke minyak kelapa dan masyarakat mengganti kegiatan menggoreng dengan merebus, mengukus dan membakar.

Rekomendasi Untuk Anda

"Emak emak pada menjerit harga minyak goreng melambung terlalu tinggi, pedagang susah jualnya modal jadi bertambah untuk belanja minyak goreng," kata Rosyid Arsyad.

Menurut dia, sulit beralih tidak menggunakan minyak goreng.

"Percuma ada pemerintah lewat Kementerian Perdagangan dan menko perekonomian, jika tidak bisa kendalikan harga minyak goreng menjadi murah dan terjangkau untuk pedagang dan masyarakat," ujarnya.

Jika hal ini dibiarkan, dia menambahkan, bisa menimbulkan gejolak ekonomi dan politik Indonesia.

"Yang langsung kenanya ke pak Jokowi," tambahnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas