Tribun

Pengamat Minta Para Elite Politik Lebih Dewasa dalam Berkomentar dan Berdialektika

Pakar komunikasi politik, Emrus Sihombing mengingatkan, elite politik harus lebih matang dan dewasa dalam berdialektika

Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Pengamat Minta Para Elite Politik Lebih Dewasa dalam Berkomentar dan Berdialektika
Tribunnews.com/Reza Deni
Pengamat Politik, Emrus Sihombing dalam acara diskusi bertajuk 'Mengintip Visi Misi Capres-Cawapres' di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jelang pesta demokrasi yang akan berlangsung dua tahun lagi, semakin banyak elite politik yang muncul di permukaan dan menyampaikan berbagai macam pernyataan di depan publik.

Entah disadari atau tidak, kerap kali apa yang disampaikan oleh para elit politik tersebut kemudian memantik polemik di masyarakat bawah.

Pakar komunikasi politik, Emrus Sihombing mengingatkan, elite politik harus lebih matang dan dewasa dalam berdialektika dan menyampaikan argumen ke masyarakat.

Pasalnya, pernyataan mereka bisa mempengaruhi kondisi dan sikap masyarakat.

“Pasti berpengaruh ke bawah, tinggal kuat atau tidaknya, ini jadi tidak produktif di masyarakat. Bagi masyarakat yang tidak kritis bisa saja menelan yang elite politik katakan. Saya berharap elite politik berdialektika dengan kematangan dan kedewasaan agar masyarakat mendapat pencerahan,” kata Emrus Sihombing, baru-baru ini.

Emrus juga merespons pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyampaikan kebanyakan proyek infrastruktur dibangun di era SBY dan Presiden Joko Widodo tinggal meresmikan.

Emrus menegaskan kejujuran dalam berkomunikasi itu penting agar masyarakat yang menerima pesan bisa tercerahkan.

"Menurut saya, pola komunikasi politik AHY tidak dewasa, ini 'framing' hanya untuk menguntungkan SBY dan dirinya. Seharusnya AHY menyatakan ini pembangunan di era SBY kemudian dilanjutkan Jokowi. Kemudian dia mengakui mana proyek pembangunan era Jokowi."

Ia menilai ada upaya memanipulasi persepsi publik, seolah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih hebat.

Padahal, kata Emrus, setiap pemimpin pasti punya kelebihan dan kekurangan.

Baca juga: Gede Pasek Sebut Anies-SBY Cocok Lawan Prabowo-Jokowi untuk Pilpres 2024: El Classico

Meningkatkan elektoral

Sementara itu, langkah Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai dapat meningkatkan elektoral dari konstituen yang tak puas dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menyebutkan, identitas Partai Demokrat sebagai partai oposisi cukup strategis.

“Penegasan Demokrat sebagai oposisi tentu bisa menjadi strategi politik yang efektif untuk mendapatkan intensif elektoral yang memadai dari basis pemilih yang tidak puas terhadap pemerintah,” papar Umam kepada Kompas.com, Kamis (22/9/2022).

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas