Tribun

Hadapi Bencana Cuaca Ekstrem, Menko PMK Minta Pendataan Lapangan Dipercepat

Muhadjir Effendy mengatakan pemenuhan data lapangan yang tepat dan cepat sangat diperlukan untuk meminimalisasi risiko bencana di Indonesia. 

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Theresia Felisiani
zoom-in Hadapi Bencana Cuaca Ekstrem, Menko PMK Minta Pendataan Lapangan Dipercepat
KOMPAS Images/KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Tim SAR melakukan pencarian dua orang korban tanah longsor di Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/10/2022). Sebanyak delapan orang warga Gang Barjo, Kampung Kebon Jahe, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, tertimbun longsor. Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan pemenuhan data lapangan yang tepat dan cepat sangat diperlukan untuk meminimalisasi risiko bencana di Indonesia.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan pemenuhan data lapangan yang tepat dan cepat sangat diperlukan untuk meminimalisasi risiko bencana di Indonesia. 

Sebagai penentu pengambilan keputusan terhadap langkah mitigasi bencana, data lapangan tanggap bencana harus terus diperbaharui.

Selain itu, koordinasi lintas sektor juga harus berjalan dengan baik.

"Semakin cepat kita dapat data lapangan yang real dan clear, kita akan semakin cepat mengambil keputusan dan akan mampu meminimalisir risiko bencana," ujar Muhadjir Effendy melalui keterangan tertulis, Rabu (19/10/2022).

Hal tersebut diungkapkan oleh Muhadjir Effendy saat memimpin Rapat Tingkat Menteri (RTM) Penanggulangan Bencana di Kantor Kemenko PMK, Selasa (18/10/2022).

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Muhadjir Effendy mengatakan bencana yang terjadi harus dapat diatasi dengan baik dan jangan sampai mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Mengingat saat ini Indonesia sedang dalam proses melawan krisis ekonomi global.

Hal-hal yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok dan kelancaran transportasi untuk menyuplai bahan perdagangan diharapkan tidak terganggu.

“Bencana tahun ini spektrumnya jadi sangat luas karena berimpitan dengan masalah ekonomi global yang sangat tinggi. Mohon koordinasi di lapangan diperkuat sehingga melibatkan semua pihak yang terdampak," ucap Muhadjir Effendy.

"Jangan sampai kita gagal fokus dalam penanganan bencana ini sehingga menimbulkan efek yang tidak kita harapkan,” tambah Muhadjir Effendy.

Tim SAR melakukan pencarian dua orang korban tanah longsor di Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/10/2022). Sebanyak delapan orang warga Gang Barjo, Kampung Kebon Jahe, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, tertimbun longsor.
Tim SAR melakukan pencarian dua orang korban tanah longsor di Gang Barjo, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (14/10/2022). Sebanyak delapan orang warga Gang Barjo, Kampung Kebon Jahe, Kelurahan Kebon Kalapa, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, tertimbun longsor. (KOMPAS Images/KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 227 bencana alam telah terjadi di Indonesia dalam dua minggu terakhir sejak awal Oktober 2022.

Di mana semua kejadian bencana dikategorikan sebagai bencana hidrometeorologi basah.

Dalam kurun waktu 3 sampai 16 Oktober 2022, banjir menjadi kejadian bencana yang paling banyak terjadi dalam periode ini disusul tanah longsor dan cuaca ekstrem.

Bencana alam tersebut menyebabkan 23 jiwa meninggal dunia, 1 jiwa hilang, dan 19 jiwa luka-luka/sakit.
 

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas