Kecewanya Keluarga Brigadir J pada Tuntutan Ferdy Sambo cs, Sebut Hukum di Indonesia Tak Adil
Keluarga Brigadir J kecewa dengan tuntutan jaksa kepada para terdakwa yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Kuat Maruf, Ricky Rizal, Bharada E
Penulis: Sri Juliati
Editor: Nanda Lusiana Saputri
TRIBUNNEWS.COM - Keluarga Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat alias Brigadir J kecewa dengan tuntutan jaksa terkait kasus pembunuhan Brigadir J.
Bahkan keluarga Brigadir J menyebut hukum di Indonesia tidak adil sebab tak puas dengan tuntutan tersebut.
Diketahui, lima terdakwa kasus pembunuhan Brigadir J yaitu Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Kuat Maruf, Ricky Rizal, dan Richard Eliezer alias Bharada E diberikan tuntutan yang berbeda-beda.
Putri Candrawathi, Kuat Maruf, dan Ricky Rizal dituntut hukuman penjara 'hanya' 8 tahun.
Sementara Bharada E yang berstatus sebagai justice collaborator (JC) justru dituntut penjara 12 tahun.
Kemudian Ferdy Sambo yang menjadi otak pembunuhan Brigadir J dituntut penjara seumur hidup.
Baca juga: Ayah Brigadir J, Samuel Hutabarat: Ferdy Sambo Tak Tunjukkan Rasa Penyesalan
Inilah kumpulan reaksi dan respons kecewa keluarga Brigadir J terkait tuntutan yang diberikan kepada Ferdy Sambo cs:
1. Ricky Rizal
Jaksa menuntut terdakwa Ricky Rizal dengan hukuman 8 tahun penjara, dari hukuman maksimal seumur hidup atau pidana mati.
Ricky Rizal dinilai terbukti bersalah dan memenuhi rumusan perbuatan pidana dalam peristiwa pembunuhan berencana Brigadir J.
Ia dinyatakan terlibat bersama-sama Ferdy Sambo melakukan pembunuhan berencana yang membuat hilangnya nyawa Brigadir J.
Menurut ayah Brigadir J, Samuel Hutabarat, seharusnya Ricky Rizal dijatuhi tuntutan maksimal.
Pasalnya, terbukti terlibat dugaan pembunuhan berencana hingga hilangnya nyawa anaknya.
Ditambah status Ricky Rizal yang merupakan seorang polisi.
"Apalagi dia adalah seorang penegak hukum atau polisi, jadi menurut pertimbangan kami seharusnya dia semaksimal mungkin," kata Samuel dalam tayangan Kompas TV, Selasa (17/1/2023).
Ricky Rizal, lanjut Samuel, juga disebut telah mengetahui rencana jahat eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo untuk menghilangkan nyawa Brigadir J sedari awal.
Samuel juga merasa peran Ricky Rizal dalam kasus pembunuhan Brigadir J sangatlah penting.
Di antaranya, Ricky Rizal berinisiatif untuk menyimpan senjata Brigadir J saat di Magelang.
Sesampainya di rumah Saguling, Ricky Rizal juga mengetahui rencana pembunuhan Brigadir J.
"Padahal Ricky Rizal sangat berperan dalam kematian almarhum Yosua. Mulai dari Magelang dia sudah menyimpan senjata almarhum."
"Dan sesampainya di Saguling itu dia mengetahui rencana-rencana pembunuhan almarhum Yoshua, itu yang kami perhatikan dari tadi," terangnya.
Samuel pun berharap agar dalam putusan majelis hakim nanti, hukuman yang diterima Ricky Rizal bisa lebih berat.
"Harapan kami di putusan majelis hakim, hukuman Ricky Rizal diperberat," kata Samuel.
Baca juga: Kuat Maruf, Ricky Rizal dan Putri Dituntut Hanya 8 Tahun, Kenapa Richard Eliezer Justru 12 Tahun?
2. Kuat Ma'ruf
Terdakwa lain, Kuat Ma'ruf juga dituntut serupa dengan Ricky Rizal yaitu penjara selama 8 tahun.
Kuat diyakini bersama-sama dengan Ferdy Sambo melakukan pembunuhan berencana Brigadir J.
Lagi-lagi, Samuel menyayangkan tuntutan tersebut dan menilai Kuat Maruf dapat diberikan tuntutan lebih dari 10 tahun penjara karena keterlibatannya.
"Tuntutan ini harapan kami di atas 10 tahun, rupanya di bawah 10 tahun."
"Padahal mulai dari Magelang, dia tahu permasalahannya."
"Bahkan sempat mengancam almarhum dengan pisau, sampai ke Jakarta pun dia mengetahui," ujar Samuel dikutip dari TribunJambi.com.
Sementara dalam kesempatan lain, Samuel Hutabarat menilai, Kuat Ma'ruf seharusnya dituntut 15 tahun penjara.
"Terhadap tuntutan 8 tahun penjara ini kita selaku orang tua almarhum, rasanya kurang pantas, harusnya 15 tahun," kata Samuel, Senin, dikutip dari YouTube MetroTvNews.
Ia menilai, Kuat Ma'ruf memiliki peran penting yang dominan di perkara pembunuhan Brigadir J.
"Soalnya dia sangat dominan di perkara ini," tuturnya.
Samuel juga menyebut Kuat sebagai sumber malapetaka.
Walaupun tidak terlibat secara langsung, tetapi Kuat dinilai mengetahui segala hal mulai di Magelang hingga Duren Tiga.
Samuel berharap majelis hakim agar dapat memberikan hukuman lebih dari tuntutan yang dibacakan oleh jaksa.
"Kami sangat menyayangkan, kalau boleh nanti agar majelis hakim menambahkan hukuman si Kuat Ma'ruf," ujarnya.
Baca juga: Soal Tuntutan Ricky Rizal dan Kuat Maruf, Keluarga Brigadir J Asumsikan Hakim Hanya Vonis 2-3 Tahun
3. Ferdy Sambo
Berbeda dua terdakwa sebelumnya, Ferdy Sambo dituntut dengan hukuman penjara seumur hidup.
Jaksa meyakini Ferdy Sambo bersalah dalam kasus pembunuhan yang membuat Brigadir J meninggal dunia.
Terhadap tuntutan jaksa ini, keluarga Brigadir J juga melayangkan ketidakpuasan.
"Kami sangat kecewa dengan jaksa yang menuntut dengan pidana penjara seumur hidup," kata ibunda Brigadir J, Rosti Simanjuntak di Jambi, Selasa (17/1/2023).
Ia menilai apa yang dilakukan Ferdy Sambo terhadap anaknya sangat keji dan biadab.
"Menurut kami sebagai orang tua, terlebih saya sebagai seorang ibu, perbuatan jahat Ferdy Sambo dengan persiapan-persiapan pembunuhan berencana sesuai dengan pasal 340 tidak berimbang kejahatannya yang dilakukan kepada anak kami, yang pembunuhannya sangat keji dan biadab," jelasnya.
Oleh karena itu, Rosti Simanjuntak meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman mati kepada Ferdy Sambo.
"Kami berharap kepada hakim, biarlah Pak Hakim yang mulia yang memutuskan nanti persidangan yang seadil-adilnya," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan suami Rosti Simanjuntak, Samuel Hutabarat yang meminta agar majelis hakim memvonis hukuman mati untuk Ferdy Sambo.
"Memang dari awal, kami berharap awalnya untuk dilakukan tuntutan Pasal 340, yaitu hukuman seberat-beratnya hukuman mati."
"Tapi dengan kenyataan ini, JPU menuntut hukuman seumur hidup."
"Oleh karena itu, berharap hakim itu mewujudkan harapan keluarga, tuntutan hukuman mati," katanya, dikutip tayangan di YouTube Kompas TV.
Ketika disinggung soal tuntutan jaksa, Samuel menilai perbuatan pelaku yang sudah merencanakan pembunuhan anaknya adalah hal yang keji.
"Bukan layak tidak layak, yang dinilai perbuatannya atas peristiwa ini, sudah sangat keji. Sebab, dia Kadiv Propam, seharusnya dia mempertimbangkan memilah atas tindakan dia."
"Pantasnya, hukuman mati," ungkap Samuel.
Selain itu, Samuel Hutabarat menyebut, Ferdy Sambo adalah aktor intelektual dalam kasus kematian sang anak.
Apalagi Brigadir J selalu difitnah dalam perkara ini.
"Mulai dari kasus ini, anak kami selalu difitnah. Sudah mati atau dihabisi nyawanya, masih difitnah, itulah yang sangat kejam," kata dia.
4. Putri Candrawathi
Kekecewaan kembali harus dirasakan keluarga Brigadir J setelah mendengar tuntutan yang diberikan kepada Putri Candrawathi.
Oleh jaksa, istri Ferdy Sambo itu dituntut delapan tahun penjara, sama seperti Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf.
Samuel Hutabarat pun mengungkapkan kekecewannya atas tuntutan tersebut.
"Kecewa," singkat Samuel saat dimintai tanggapannya, Rabu (18/1/2023).
Sementara sang istri, Rosti Simanjuntak bahkan menangis setelah mendengar tuntutan tersebut dan berharap agar Putri Candrawathi dihukum lebih berat.
Hal ini lantaran Rosti menganggap Putri Candrawathi ikut serta dalam rencana sang suami, Ferdy Sambo dalam pembunuhan berencana Brigadir J.
"Mungkin buat si Putri (Putri Candrawathi) harapan kami hukuman semaksimal mungkin," katanya, dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV.
Rosti juga menyebut, Putri Candrawathi sebagai sosok wanita yang tidak memiliki hati nurani.
"Dia (Putri Candrawathi) manusia, dia itu memang bukan manusia, dia itu betina yang penuh dosa, dengan kelicikan mulutnya dia memutar-mutar semua fitnahan buat anak saya."
"Putri bukan manusia, betina yang bukan manusia, tidak memiliki hati nurani," ungkapnya dengan penuh rasa kekecewaan.
Menurut Rosti Simanjuntak, Putri Candrawati sudah berbelit-belit selama persidangan dan berbohong untuk menutupi perbuatannya yang keji.
"Kami berharap keadilan yang seadil-adilnya untuk anak kami yang dibunuh secara keji," katanya.
Rosti Simanjuntak juga beranggapan Putri Candrawathi merupakan dalang dari di balik pembunuhan Brigadir J.
"Sangat merasa kecewa, anak kami dibunuh dengan sadis, tapi tuntutan Putri hanya 8 tahun."
"Tidak ada keadilan untuk masyarakat kecil seperti kami," ucapnya, dikutip dari TribunJambi.com.
5. Richard Eliezer
Terakhir ada Richard Eliezer alias Bharada E yang dituntut penjara selama 12 tahun oleh jaksa.
Tuntutan ini empat tahun lebih tinggi dari tuntutan yang diberikan pada Ricky Rizal, Kuat Ma'ruf, dan Putri Candrawathi.
Mendengar tuntutan jaksa tersebut, Samuel Hutabarat justru merasa kaget dan heran.
Menurutnya tuntutan yang dibacakan jaksa tidak wajar, karena lebih tinggi tuntutan Bharada E daripada Putri Candrawathi.
"Kita sempat terkejut mendengarnya, alangkah jauhnya dengan yang bertiga Kuat Maruf, Ricky Rizal sama Putri," ujarnya dikutip dari TribunJambi.com, Rabu (18/1/2023).
Padahal, kata Samuel, Bharada E berstatus Justice Collaborator yang membongkar semua kejahatan Ferdy Sambo.
Sehingga alasan tersebut yang membuat dirinya heran dengan tuntutan yang diberikan kepada Bharada Eliezer.
Meski begitu ia tetap menyerahkan semua keputusan kepada hakim, agar membuat keputusan yang lebih adil lagi.
"Nanti finalnya di hakim, karena kan yang menentukan hukuman hakim, bukan jaksa. Biar hakim yang memutuskan," ujarnya.
Ia juga terus berdoa kepada Tuhan agar keluarganya diberikan keadilan seadil-adilnya.
Sementara itu, menurut bibi Brigadir J, Roslin Simanjuntak, seharusnya tuntutan Bharada E lebih rendah ketimbang Putri Candrawathi.
Menurutnya, Bharada E telah bertobat mengakui perbuatannya serta membongkar skenario Ferdy Sambo.
"Memang membunuh harus dihukum, tapi menurut penilaian kita karena Eliezer sudah bertobat dan mengakui kesalahannya."
"Dia membuka skenario Ferdy Sambo. Harusnya hukumannya lebih rendah dari Putri Candrawathi," kata Roslin, dikutip dari tayangan di KompasTV.
Roslin Simanjuntak juga menyebut, hukum di Indonesia tidak adil.
"Itulah hukum di Indonesia ini tidak adil, memang kalau sesuai dengan dakwaan JPU pembunuhan berencana harus 15 tahun."
"Namun Eliezer kan sudah bersaksi, menyatakan kebenaran dan membuka semua rencana-rencana mereka."
"Seharusnya Eliezer bukan (dihukum) di atas Putri Candrawathi ya, harusnya di bawahnya, ini malah terbalik hukum di Indonesia ini, inilah di Indonesia hukum runcing ke bawah, tapi tumpul ke atas," katanya.
Roslin Simanjuntak mengatakan, keluarga Brigadir J memahami apa yang dilakukan oleh Richard Eliezer dikarenakan perintah Ferdy Sambo.
"Karena memang dia keadaan terpaksa ya oleh pimpinannya seorang jenderal yang memerintah, jadi otomatis dia melakukannya," ujar Roslin Simanjuntak.
Oleh karena itu, ia berharap hakim lebih bijaksana untuk memberi putusan kepada para terdakwa tewasnya Brigadir J.
"Kami menginginkan dan mengharapkan keadilan yang sebenar-benarnya, agar hukum di Indonesia ini tidak tumpul ke atas,” tegas Roslin Simanjuntak.
(Tribunnews.com/Sri Juliati/Milani Resti/Suci Bangun DS/Nuryanti/Garudea P/Danang Triatmojo) (TribunJambi.com/Danang Noprianto)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.