Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Menlu Retno: Banyak Negara Pilih Pendekatan 'Zero Sum' Saat Sikapi Konflik

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi menyampaikan bahwa situasi dunia dari waktu ke waktu kian dipenuhi ketidakpastian.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Menlu Retno: Banyak Negara Pilih Pendekatan 'Zero Sum' Saat Sikapi Konflik
Tribunnews.com/Danang
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Yayasan Tarumanagara di Universitas Tarumanagara (Untar), Tanjung Duren, Jakarta Barat pada Kamis (20/6/2024). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi menyampaikan bahwa situasi dunia dari waktu ke waktu kian dipenuhi ketidakpastian. Pernyataan ini lanjutnya, juga sering disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Hal ini disampaikan Retno saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Yayasan Tarumanagara Untar, Jakarta Barat pada Kamis (20/6/2024).

"Kita tahu ibu bapak, teman-teman semua bahwa situasi dunia dari waktu ke waktu semakin penuh ketidakpastian, dan dunia tidak baik-baik saja. Kata-kata ini sering dipakai oleh Presiden Jokowi bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja," kata Retno dalam sambutannya. 

Selain itu, dunia juga belakangan dipertontonkan dengan rivalitas geopolitik yang semakin tajam. Rivalitas ini terjadi bukan saja di bidang politik atau ideologinya. Tapi juga merambah ke ranah ekonomi.

Hal ini diperparah dengan banyak negara lebih memilih pendekatan zero sum ketimbang win-win solution dalam menyikapi konflik, atau memandang keuntungan yang didapat oleh negara yang berkonflik, berasal dari kerugian negara lawannya. 

"Dan kita lihat juga bahwa pendekatan zero sum lebih banyak digunakan daripada pendekatan win-win," ungkap Retno. 

Rekomendasi Untuk Anda

Lebih lanjut Retno mengatakan bahwa perang dan konflik yang terjadi di dunia tidak berkurang, tapi justru makin bertambah dari waktu ke waktu. 

Sejarah kata dia, mengajarkan bahwa sekali perang dan konflik terjadi, maka tidak ada pihak yang tahu kapan perkara itu akan berakhir. Kalaupun berakhir, waktu yang dibutuhkan amat panjang untuk mengembalikan kehidupan seperti sediakala. 

"Jadi harga dari sebuah konflik dan perang sangat-sangat mahal, terutama bagi masyarakat sipil," katanya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas