Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Testimoni Agung Rai: Tak Mudah Jadi Wakil Rakyat

Eksistensi seseorang di dunia politik antara lain ditandai dengan menjadi pejabat publik baik di eksekutif atau pun di legislatif.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Testimoni Agung Rai: Tak Mudah Jadi Wakil Rakyat
HO
I Gusti Agung Rai Wirajaya (kanan). 

Fenomena money politics ini terjadi terutama menimpa wakil rakyat yang jarang turun ke bawah, atau sekali dua turun ke bawah hanya menjelang pemilu.

Sedangkan wakil rakyat yang rajin turun ke bawah seperti dirinya lebih mengutamakan program kerja untuk mendulang suara rakyat, dan hal yang demikian itu sah adanya. 

Terbukti, Agung Rai berhasil terpilih menjadi wakil rakyat selama lima periode berturut-turut tanpa money politics.

Yang lebih berat adalah wakil rakyat yang duduk di komisi atau Alat Kelengkapan Dewan (AKD) tertentu. Godaan di komisi yang terkait dengan kebijakan anggaran lebih dahsyat dibandingkan dengan di komisi-komisi lainnya.

Agung Rai pun seperti meniti buih yang sulitnya bukan kepalang. Bila terpeleset sedikit saja, dirinya bisa tercebur ke lautan korupsi. 

Puji Tuhan, hingga berakhir tugasnya di DPR pada 30 September lalu, Agung Rai aman-aman saja. Semua karena petunjuk Sang Hyang Widhi Wasa, dan kewaspadaan dirinya supaya tidak terjebak korupsi. 

Dan ini, kata Agung Rai, yang paling penting, yakni hidup sederhana dan tidak ingin memiliki yang berlebihan, sesuai prinsip hidupnya sebagai pemeluk agama Hindu, "Asteya" dan "Aparigraha", sehingga tidak sempat muncul motif korupsi karena kebutuhan atau pun keserakahan. 

Rekomendasi Untuk Anda

"Asteya atau tidak ingin mencuri dimaksud tidak hanya mengacu pada pencurian benda, tetapi juga menahan diri dari eksploitasi. Jangan merampas hak orang lain, baik itu barang, hak atau perspektif. Orang yang baik akan mendapatkan keinginannya dengan kerja keras, kejujuran dan cara yang adil," terangnya. 

Adapun Aparigraha atau tidak memiliki mengingatkan Agung Rai untuk hidup sederhana dan hanya menyimpan barang-barang material yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Alhasil, dalam terminologi agama Islam, Agung Rai dapat disebut "husnul khatimah" atau berakhir dengan baik.

 

Halaman 4/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas