Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pangan Lokal Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Masa Depan Indonesia

Aktivis ketahanan pangan, Anang Setiawan menekankan bahwa mencintai pangan lokal bukan sekadar urusan perut, melainkan juga soal gaya hidup.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
zoom-in Pangan Lokal Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Masa Depan Indonesia
TRIBUNPAPUA/ Putri Nurjannah Kurita
MAKANAN LOKAL - Potret penjualan sagu mentah di Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura. Di tengah derasnya tren kuliner global dan maraknya makanan cepat saji, kesadaran untuk kembali mengenal pangan lokal Nusantara seperti sagu semakin penting untuk dibangkitkan. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fast food dan tren kuliner global memang seru, tapi jangan lupa: Indonesia punya segudang pangan lokal yang nggak kalah keren.

Dari sagu, sorgum, umbi-umbian, sampai buah-buahan endemik—semuanya bukan hanya enak, tapi juga menyimpan cerita tentang ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat adat.

Aktivis ketahanan pangan, Anang Setiawan mengingatkan, setiap kali kita membeli produk petani lokal, kita ikut menjaga alam, mengurangi jejak karbon, dan mendukung masyarakat adat.

“Banyak pangan lokal justru kalah pamor dibanding produk impor, padahal ini bisa jadi solusi nyata menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim,” ujarnya saat Parara Mini Festival 2025 di Jakarta belum lama ini.

Festival yang digelar dua tahun sekali ini menghadirkan lebih dari 16 komunitas.

Mulai dari produsen pangan sehat, perajin, hingga fesyen berbasis kain tradisional ikut meramaikan acara.

Anang, yang juga menjabat sebagai Ketua Steering Committee Parara, menekankan bahwa mencintai pangan lokal bukan sekadar urusan perut, melainkan juga soal gaya hidup.

Rekomendasi Untuk Anda

“Generasi muda bisa mulai dari hal kecil: pilih produk lokal, kenali asal-usulnya, lalu bangga jadi bagian dari gerakan ini. Karena setiap kali kita makan pangan lokal, itu artinya kita ikut menjaga bumi dan memperkuat identitas bangsa,” jelasnya.

Julianus Limbeng, Pamong Budaya Ahli Madya Kementerian Kebudayaan RI menyampaikan apresiasinya terhadap upaya pelestarian pangan lokal di acara Parara Mini Festival 2025.

“Festival ini mampu memberi kontribusi nyata dalam mengenalkan kekayaan pangan Nusantara sekaligus menggerakkan publik untuk kembali mencintai pangan lokal,” kata Julianus.

Pangan lokal adalah bahan makanan yang berasal, diproduksi, dan dikonsumsi sesuai potensi alam serta budaya di daerah tertentu.

Baca juga: Simulasi Krisis Beras, DPN Uji Ketahanan Pangan Nasional

Indonesia sangat kaya dengan sumber pangan ini: dari singkong, sagu, jagung, ubi jalar, talas, ikan air tawar, tempe, tahu, hingga buah dan sayuran seperti kelor, pepaya, dan salak.

Keanekaragaman tersebut adalah modal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

Manfaatnya pun berlapis. Dari sisi gizi, pangan seperti sagu dan ubi jalar kaya akan serat, vitamin, dan mineral.

Dari sisi ekonomi, konsumsi pangan lokal mendukung petani, nelayan, serta pelaku UMKM, sehingga perputaran ekonomi daerah semakin kuat.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas