Kata Greenpeace soal Gelondongan Kayu yang Terbawa Banjir di Sumatra
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Sekar Banjaran Aji buka suara perihal kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Sumatra.
Penulis:
Muhamad Deni Setiawan
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Persoalan banyaknya kayu saat bencana di Sumatra viral di media sosial yang menjadi perbincangan masyarakat.
- Greenpeace mengungkapkan temuannya yang fokus di wilayah Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara (Sumut).
- Menurut Greenpeace, hutan alam yang tersisa di sana sekitar 49 persen dari Daerah Aliran Sungai (DAS).
TRIBUNNEWS.COM - Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji, buka suara perihal kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Sumatra.
Sebagaimana diketahui, persoalan banyaknya kayu saat bencana ini viral di media sosial yang menjadi perbincangan masyarakat.
Sekar pun mengungkapkan temuan Greenpeace yang fokus di wilayah Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara.
Menurutnya, hutan alam yang tersisa di sana sekitar 49 persen dari Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pasalnya, dari tahun 90-an hingga tahun 2022, terjadi deforestasi besar-besaran di Batang Toru.
"Hal yang mendasar, yakni kami menemukan setidaknya dari tahun 90' sampai 2022 ada deforestasi yang lumayan besar jumlahnya sekitar 70.000 hektare atau sekitar 21 persen dari seluruh luas DAS-nya Batang Toru."
"Kini kalau kita bicara hutan di wilayah tersebut, hutan alam yang tersisa itu tinggal 167.000 hektare atau sekitar 49 persen dari DAS. Itu lokasinya pun di tengah," ungkapnya dalam acara Kompas Petang di Kompas TV, Selasa (2/12/2025).
Sementara itu, areal yang dilakukan pemanfaatan, sebagian besar digunakan untuk pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.
"Kita bisa lihat dibandingkan dengan areal perizinan berbasis serahan dan ekstraktif secara keseluruhan luasnya sekarang ada sekitar 94.000 hektare atau 28 persen."
"Sebagian besar adalah perizinan berusaha pemanfaatan kawasan hutan dan juga pertambangan serta perkebunan kelapa sawit. Tadi sudah disebutkan salah satunya perkebunan kelapa sawit," tuturnya.
Menurutnya, pada kawasan hulu sudah beralih fungsi menjadi pertanian kering, sedangkan pada bagian hilir sudah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.
Baca juga: Verrell Bramasta Luruskan Sorotan soal Outfit Saat Bantu Korban Banjir: Itu Bukan Rompi Antipeluru
"Nah, dalam cerita tersebut kita bisa lihat bagaimana bagian hulu itu sebenarnya sudah beralih fungsi menjadi pertanian kering."
"Sedangkan bagian hilirnya beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan juga industri bubur kertas. Jadi benar-benar hutan alamnya tuh tinggal tersisa di tengah di bagian DAS tersebut," terangnya.
Bareskrim Bakal Usut
Dittipidter Bareskrim Polri turun tangan mengusut kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
"Sedang penyelidikan," kata Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Irhamni saat dihubungi, Selasa.