Pamit Kerja TKI Ternyata Jadi Buron Interpol, Dewi Astutik Pakai Identitas Palsu, Punya Nama Samaran
Gembong narkoba asal Ponorogo, Dewi Astutik, pamit bekerja jadi TKI, justru masuk DPO Interpol.
Penulis:
Pravitri Retno Widyastuti
Editor:
Nuryanti
Komjen Suyudi Ario Seto mengungkapkan Dewi berperan sebagai rekrutmen untuk kurir.
"Dewi merupakan rekrutmen dari jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika dan juga menjadi (DPO) dari negara Korea Selatan," ungkap Suyudi, Selasa (2/12/2025).
Peran penting Dewi sebelumnya juga pernah diungkap Komjen Marthinus Hukom ketika masih menjabat sebagai Kepala BNN.
Marthinus mengatakan Dewi merupakan pengendali untuk ratusan kurir narkoba yang kebanyakan merupakan WNI.
Bahkan, ada lebih dari 110 WNI 'asuhan' Dewi yang ditangkap di berbagai negara, seperti Brasil, Kamboja, hingga Korea Selatan.
"Ada 110 lebih orang Indonesia ditangkap di luar negeri, ada di Brasil, Addis Ababa (ibu kota Ethiopia), di India, Kamboja, Thailand, Korea. Itu semua ketika kita bertanya, mereka bagian dari Dewi Astutik," tutur Marthinus dalam tayangan Rosi di KompasTV yang tayang pada akhir Mei 2025.
Karena perannya sebagai pemimpin dan perekrut kurir, Dewi diduga kuat berhubungan dengan jaringan narkoba lainnya.
Marthinus menyebut Dewi termasuk dalam jajaran pimpinan di Golden Triangle bersama buron WNI lainnya, Fredy Pratama, meskipun bukan yang tertinggi.
Sebab, selain membawahi ratusan kurir narkoba, Dewi juga terhubung dengan sindikat Afrika yang beroperasi di Thailand dan semenanjung Malaysia.
"Dewi ini sudah menjadi semacam pimpinan dari jaringan ini (Golden Triangle). Tapi, saya yakin dia bukan pimpinan tertingginya," ujar Marthinus.
"Dia terhubung dengan sindikat Afrika yang beroperasi di Thailand dan semenanjung Malaya," imbuhnya.
Jaringan yang dikendalikannya mendistribusikan berbagai jenis narkotika, termasuk sabu, kokain, dan ketamin, ke wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara.
Untuk mengelabui aparat hukum, Dewi kerap berpindah negara dan menggunakan nama samaran seperti Kak Jinda atau Dinda.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Reynas Abdila, Surya.co.id/Pramita Kusumaningrum, Kompas.com)
Baca tanpa iklan