Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

4 Analisis Pakar soal Penyebab Banjir dan Tanah Longsor Sumatra

Pakar ITB menilai, fenomena banjir dan tanah longsor di Sumatra adalah dampak dari interaksi antara faktor atmosfer hingga kondisi geospasial.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
zoom-in 4 Analisis Pakar soal Penyebab Banjir dan Tanah Longsor Sumatra
BNPB
BENCANA TAPANULI SELATAN - Kondisi pascabanjir wilayah di Desa Hotagodang , Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada Minggu (30/11/2025). Pakar ITB menilai, fenomena banjir dan tanah longsor di Sumatra adalah dampak dari interaksi antara faktor atmosfer hingga kondisi geospasial. 

Heri menambahkan, kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan serapan air lebih tinggi dibandingkan wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi. 

Ketika kawasan tersebut terdegradasi, kata Heri, kemampuan infiltrasinya pun menurun signifikan dan menyebabkan peningkatan runoff yang jauh lebih besar.

Runoff atau aliran permukaan merupakan air yang berasal dari air hujan yang menjulur di permukaan tanah. 

“Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir,” lanjutnya.

Lebih lanjut, Heri menyebut, penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial sangat penting untuk mitigasi jangka panjang. 

Oleh sebab itu, mitigasi banjir tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur fisik seperti tanggul atau normalisasi sungai. Tetapi, harus disertai pendekatan non-struktural yang lebih komprehensif.

Kemudian, secara klimatologis, wilayah Sumatra bagian utara memang sedang berada pada puncak musim hujan. Daerah ini, memiliki distribusi hujan sepanjang tahun dengan kemungkinan dua kali puncak musim hujan.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketua Program Studi Meteorologi, Dr. Muhammad Rais Abdillah, dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, menjelaskan karakteristik curah hujan di Sumatra berbeda.

“Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya,” katanya.

Adapun curah hujan pada periode tersebut tergolong sangat lebat.

Siklon Tropis Senyar

Rais mengatakan, fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem ini menunjukkan ciri khas adanya pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Sumatera bagian utara.

“Pada tanggal 24 November sudah mulai terlihat adanya sistem yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, kita menyebutnya sebagai vortex, meskipun saat itu masih berupa bibit dan matanya belum terlihat jelas,” jelasnya.

Fenomena itu, lantas berkembang menjadi sistem Siklon Tropis Senyar, yang terbentuk di sekitar Selat Malaka dan bergerak ke arah barat. 

Meski tidak terlalu kuat seperti siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, sistem ini cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan presipitasi di Sumatera bagian utara.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas