Ahmad Ali: Kader PSI Harus Gotong Royong Tangani Dampak Banjir Sumatera
Ahmad Ali minta PSI dukung pemerintah tangani banjir Sumatera. Pengungsi keluhkan bantuan lambat, warga harap akses jalan segera dibuka.
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Ahmad Ali minta PSI jangan ribut status, fokus bantu korban banjir Sumatera.
- BNPB catat 1.003 jiwa meninggal, ribuan luka, ratusan masih hilang.
- Pengungsi keluhkan keterlambatan bantuan, warga harap akses jalan segera dibuka.
TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK – Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menegaskan kader PSI harus bergotong royong mendukung kebijakan pemerintah dalam penanganan bencana banjir Sumatera yang menelan ribuan korban jiwa.
Hal itu disampaikan Ahmad Ali saat Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Kalimantan Barat di Novotel Pontianak, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (13/12/2025).
Menurutnya, PSI sebagai partai pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran harus siap bergotong royong membantu pemerintah menyelesaikan dampak bencana.
“Saya meminta semua kader bersama-sama mendukung kebijakan pemerintah hari ini. Penyelesaian bencana di tiga provinsi itu akan diselesaikan oleh pemerintah Indonesia. Kita berdiri di atas kaki kita sendiri,” ujar Ahmad Ali.
Ahmad Ali menekankan agar kader PSI tidak memperdebatkan status kebencanaan di Sumatera.
Ia menilai yang lebih penting adalah kerja sama seluruh stakeholder, termasuk partai politik, untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu mengatasi persoalan bencana secara mandiri.
Tembus 1.000 Warga Tewas
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Sabtu sore (13/12/2025), korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi Sumatera mencapai 1.006 jiwa.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan perubahan angka terjadi setelah proses verifikasi lanjutan berbasis data kependudukan dan identifikasi ulang di lapangan.
Rincian korban jiwa:
- Aceh: 415 orang (bertambah dari 411)
- Sumatera Utara: 349 orang (bertambah dari 343)
- Sumatera Barat: 242 orang (bertambah dari 241)
Selain itu, jumlah korban hilang menurun dari 226 menjadi 217 orang, sementara jumlah pengungsi berkurang signifikan dari 884.889 menjadi 654.642 jiwa, seiring kondisi banjir yang mulai surut dan warga berangsur kembali ke rumah masing-masing.
BNPB menegaskan dinamika data korban masih mungkin berubah karena pencocokan dan verifikasi terus dilakukan di lapangan.
Butuh Air Bersih, Obat, hingga Listrik
Laporan media daerah seperti TribunMedan.com dan Serambinews.com menggambarkan kondisi pengungsi yang masih menghadapi kesulitan.
Sejumlah pengungsi mengeluhkan keterlambatan distribusi bantuan di posko, terutama kebutuhan dasar seperti air bersih, obat-obatan, dan pasokan listrik.
Selain itu, warga di beberapa wilayah terdampak berharap pemerintah segera menurunkan alat berat untuk membuka akses jalan yang tertutup material longsor, agar pencarian korban dan distribusi bantuan bisa lebih cepat dilakukan.
Baca tanpa iklan