Mengintip Perjalanan Ompreng MBG: Dari Dapur Dini Hari dan Kepulan Asap Hingga ke Meja Sekolah
Melalui rapat dan briefing bersama guru, sekolah juga menerapkan sistem piket yang melibatkan guru serta siswa. Hanya mereka yang piket bisa ambil MBG
Penulis:
Rina Ayu Panca Rini
Editor:
willy Widianto
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Saat sebagian besar warga kota masih terlelap, aktivitas di sebuah dapur di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sudah dimulai sejak dini hari.
Asap tipis mengepul, suara alat masak bersahutan, dan para juru masak bergerak cepat menyiapkan ribuan porsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang akan menemani hari para siswa di sekolah.
Baca juga: Tak Pusing Harga Bahan Baku Naik, Pemilik Dapur MBG Ini Ungkap Cara Mengatasinya
Dari dapur inilah, satu per satu ompreng MBG disiapkan, dikemas, dan memulai perjalanan panjangnya hingga akhirnya tersaji di meja makan sekolah menjadi pengganjal lapar sekaligus sumber energi bagi anak-anak saat jam istirahat.
Tribunnews.com berkesempatan menyaksikan langsung proses distribusi MBG dari dapur hingga meja sekolah di SMP Negeri 1 Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Selasa (16/12/2025).
Kesibukan terlihat jelas di dapur MBG milik Sujimin, yang akrab disapa Jimmy Hantu. Dengan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), SPPG Mutiara Keraton Solo Bogor 1 dan 2, Jimmy kini melayani sekitar 25 sekolah di sekitar Kecamatan Tamansari, mendistribusikan kurang lebih 8.000 ompreng MBG setiap hari.
Selama tujuh bulan berjalan, Jimmy menegaskan kualitas bahan menjadi prinsip utama dalam operasional dapurnya. Ia tidak mau berkompromi soal kesegaran.
“Kalau tidak segar, saya tidak mau olah. Semua harus fresh,” ujarnya.
Proses memasak dimulai sejak tengah malam. Pemorsian dilakukan sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 pagi, lalu distribusi dilakukan dua kali, pukul 07.00 dan 10.00. Skema ini disesuaikan agar anak-anak yang belum sempat sarapan tetap mendapatkan asupan gizi sebelum melanjutkan aktivitas belajar.
Di sisi lain, sekolah juga berperan penting memastikan distribusi MBG berjalan tertib. Kepala SMP Negeri 1 Tamansari, Hermaini, mengakui bahwa pada awal pelaksanaan program MBG sejak Januari 2025, pihak sekolah sempat kebingungan mengatur waktu pengambilan dan waktu makan siswa.
“Awalnya memang perlu penyesuaian,” kata Hermaini.
Baca juga: Kepala BGN Lapor ke Prabowo: Anggaran MBG Papua Rp25 Triliun, 3 Kali Lipat Jawa
Melalui rapat dan briefing bersama seluruh guru, sekolah akhirnya menerapkan sistem piket yang melibatkan guru dan siswa. Hanya mereka yang bertugas piket yang mengambil MBG, sehingga alur distribusi lebih tertata dan tidak mengganggu proses belajar mengajar.
“Sistem piket ini berjalan lancar. Distribusi jadi lebih teratur dan efisien,” tambahnya.
Bagi siswa, MBG bukan sekadar makanan. Rezky Aditya, siswa kelas 8, mengaku selalu menunggu kedatangan MBG yang biasanya tiba sekitar pukul 10.00.
“Senang kalau MBG datang. Saya sering tidak sempat sarapan di rumah, jadi makannya lahap,” ujarnya sambil tersenyum.
Hal senada disampaikan Billy. Menurutnya, siswa yang piket bertugas mengambil dan membawa lima ompreng untuk teman-teman sekelas.
Baca tanpa iklan