Rocky Gerung Minta Aktivis yang Diteror Dilindungi: Mereka Kritik Jujur dari Hati
Para aktivis yang terkena teror sebelumnya menilai bahwa pemerintah lambat dalam menangani bencana di wilayah Sumatra.
Penulis:
Rifqah
Editor:
Suci BangunDS
"Tetapi ada pihak yang merasa bahwa ini sudah 1 bulan itu 2 minggu darurat (bencana di Sumatra) diperpanjang lagi dan masih soal apakah ini nasionalisme lebih penting atau humanisme," imbuhnya.
Rocky lantas menyatakan bahwa mereka yang melayangkan kritik terkait bencana Sumatra itu, benar-benar dari hati nurani.
"Teman-teman yang melakukan kritik itu betul-betul jujur ingin mengucapkan dari hati mereka bahwa bencana di Pulau Sumatra itu adalah bencana yang disebabkan oleh kegagalan evaluasi kebijakan, semuanya terjadi karena AMDAL-nya di dilulantakkan oleh kekuasaan putih yang bergabung dengan kekuasaan bisnis," tegasnya.
"Jadi kita mesti fair bahwa Presiden Prabowo tentu berupaya untuk mengendalikan itu. Tetapi kecerewetan netizen juga jangan dihalangi karena mereka merasa bahwa terlalu lamban pemerintah tuh. Bahwa ada prestasi, oke, tetapi kritik adalah bagian dari upaya untuk memitigasi secara lebih cepat," sambung Rocky.
Rocky menegaskan lagi bahwa apapun yang dihasilkan melalui wacana publik itu adalah hak publik.
"Jangan ditekan dan jangan dibatasi hanya karena kemarahan atau kebencian, lalu para influencer ini atau public figure itu kemudian diancam, itu enggak fair tuh. Tetap saya beranggapan bahwa hak publik untuk mengucapkan yang jujur."
"Nah, kejujuran itu bisa dalam bentuk puji-pujian juga bisa dalam bentuk cacian, itu biasa saja, karena dua-duanya ekspresi dari kesadaran bahwa ada yang sudah berhasil, tapi banyak yang menganggap bahwa ini terlalu lambat keberhasilan itu."
"Jadi di titik itulah kita mengerti bahwa demokrasi memang cerewet, harus diterima bahwa kecerewetan itu bagian dari ekspresi real, ekspresi otentik dari warga negara," papar Rocky.
Kritikan Para Aktivis dan Influencer
Sebagai bagian dari Greenpeace yang merupakan organisasi kampanye lingkungan hidup internasional yang independen, Iqbal sebelumnya memang vokal dan lantang menyuarakan isu lingkungan hidup setelah terjadinya banjir dan longsor di Sumatra.
Greenpeace kerap kali menggunakan aksi damai dan kreatif untuk menyoroti masalah lingkungan serta mendorong solusi berkelanjutan.
Belakangan ini, Iqbal melalui akun media sosial pribadinya juga kerap menayangkan unggahan tentang banjir Sumatra dan respons pemerintah dalam menangani bencana tersebut.
Selain Iqbal, sejumlah juru kampanye Greenpeace juga banyak bersuara lewat wawancara media maupun media sosial.
Berbagai pernyataan tersebut, berangkat dari temuan tim yang pergi ke lapangan pasca bencana, serta temuan dan analisis Greenpeace.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, Iqbal banyak menerima serangan di kolom komentar unggahan media sosialnya, juga pesan bernada ancaman lewat direct message (DM) Instagram.
Kemudian pada Selasa, 30 Desember 2025, rumah Iqbal dikirimi bangkai ayam tanpa pembungkus apapun.
Bahkan, di kaki ayam tersebut terikat plastik berisi kertas bertuliskan pesan “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU”.