Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mengenal Komunitas Sraddha Sala, Merawat Naskah Kuno dan Budaya Jawa dari Akar Desa

Mengenal komunitas Sraddha Sala, sekelompok pegiat Sastra Jawa yang berfokus pada studi naskah kuno atau manuskrip, menarik minat generasi muda.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mengenal Komunitas Sraddha Sala, Merawat Naskah Kuno dan Budaya Jawa dari Akar Desa
Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka
KOMUNITAS SRADDHA SOLO - Ahli filologi peneliti kajian naskah kuno sastra Jawa sekaligus pendiri komunitas Sraddha Sala, Rendra Agusta saat di temui di Sraddha Institute Surakarta, Kamis (16/1/2026). Mengenal komunitas Sraddha Sala, sekelompok pegiat Sastra Jawa yang berfokus pada studi naskah kuno atau manuskrip, menarik minat generasi muda. 

Meskipun berawal dari fokus yang sempit pada manuskrip, komunitas yang berada di Jl. Madyotaman Punggawan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah ini, kini terus berkembang menjadi wadah yang lebih luas untuk mempelajari Sastra Jawa dan kebudayaan Jawa secara menyeluruh demi menjangkau lebih banyak orang.

Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta 1
KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta, diunduh Kamis (15/1/2026).

"Fokus (Sraddha Sala) tetap ke manuskrip (naskah kuno) karena nggak banyak orang yang menyentuh itu. Di Solo saja cari teman yang fokus manuskrip nggak banyak. Baru kemudian meluas ke Sastra Jawa dan Kebudayaan Jawa secara umum," terang Rendra.

Revitalisasi Naskah Kuno dan Pemberdayaan Masyarakat Desa

Melalui Sraddha Sala, Rendra merubah program sosialisasi naskah kuno yang biasanya diadakan di tingkat pusat, menjadi lebih menyasar langsung ke tingkat desa dan kecamatan agar masyarakat setempat benar-benar memahami isi naskah yang mereka miliki.

"Sosialisasi dari dinas ada sebenarnya mas, cuma kurang nyasar ke bawah. Akhirnya setelah pandemi itu saya punya program ketika sama negara itu mulai dipercaya, terus programku tak balik."

"Kalau dulu orang kumpulin orang ke kota, disosialisasi, ya bikin aja ke desa-desa itu. Jadi diadakan di setiap kecamatan, desa," bebernya.

Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta 2
KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta, diunduh Kamis (15/1/2026).

Pendekatan yang dijalankan pria yang kini menjadi dosen Politeknik Insan Husada Surakarta itu, kini membuahkan hasil.

Kedekatan emosional yang erat antara peneliti dan warga, di mana masyarakat secara sukarela terlibat dalam diskusi naskah hingga menyediakan kebutuhan logistik kegiatan. 

Rekomendasi Untuk Anda

Fenomena ini sejalan dengan teori post-custodial, yaitu sebuah gerakan perlawanan terhadap metode perawatan benda antik yang bersifat sentralistik oleh negara. 

Dalam konsep ini, masyarakat diajarkan untuk mampu merawat sendiri warisan budaya mereka, mulai dari pengetahuan teknis mengenai zat kimia hingga cara pelestariannya, yang terbukti jauh lebih efisien dalam penggunaan anggaran negara.

"Jadi custodial itu kan metode perawatan benda-benda antik yang sifatnya sentralistik. Nah, kita ini sedang melakukan ya gerakan perlawanan sebenarnya, ya teori post-modern itu kan mengajarkan on positioning gitu. Jadi keberpihakan itu menjadi penting."

"Lah post-custodial ini kan bagaimana kowe iki ojo jadi sentralistik negara sing mampu merawat itu hanya negara ngono. Nek ada yang bisa dikerjakan masyarakat dan masyarakat mampu, ya ajari mereka. Tukune neng endi zat kimiane, ya gitu-gitu mas," terang Rendra.

Inovasi Ekonomi dan Minat Generasi Muda

Untuk menarik minat generasi muda terhadap manuskrip kuno, Sraddha melakukan upaya alih wahana atau alih media, seperti mengaplikasikan desain naskah dan aksara Jawa kuno pada kaos atau produk fesyen lainnya. 

Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta 3
KOMUNITAS SRADDHA SALA - Potret kegiatan komunitas Sraddha Sala dari Rendra Agusta, diunduh Kamis (15/1/2026).

"Alih wahana, alih media itu sangat sangat menarik ya bagi mereka (generasi muda). Jadi jadi desain, jadi kaos, jadi ya baju-baju kayak gini, baju-baju yang sangat provokatif ya, bertulis 'ndeder kautaman' (menanam kautaman)," tuturnya.

"Nah mereka sebenarnya bangga juga, jadi kayak kayak di Telomoyo kemarin itu desanya punya prasasti, punya prasasti di batu ada aksara Jawa Kuno. Nah mereka tertarik untuk melukis, dilukis ulang, dadi alih wahana, alih media itu mereka sangat tertarik. Apalagi yang berbau ekonomi, lebih menarik ya buat anak-anak sekarang atau mungkin ya nggak anak-anak juga, mungkin orang tua kalau ada ekonomi itu kaeke dikembangkan," sambungnya.

Selain aspek visual, integrasi naskah dengan nilai ekonomi menjadi daya tarik yang sangat kuat. 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas