Bicara Pers, AI & Transformasi Digital, Dahlan Dahi: Ini Soal Informasi Apa yang Akan Kita Wariskan
Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi bicara soal pers, AI, dan transformasi digital dalam acara Konvensi Nasional Media.
Penulis:
Faryyanida Putwiliani
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Karena berbeda dengan Google, internet dan sosial media yang hanya menarik informasi yang ada dalam sistem mereka, AI bisa melakukan hal lebih dengan menciptakan informasi baru.
"Siapa yang memproduksi informasi, kita para wartawan mencari, mengolah, melaporkan, dan mendistribusikan informasi. Ketika tahun 98 Google muncul, kita menyadari bahwa wartawan bukan satu-satunya entitas dalam sistem sosial yang mencari, mengolah, dan mendistribusikan informasi."
"Saya rasa dari tahun 1998 sampai hari ini, itulah yang kita saksikan, satu dunia, di mana informasi tidak hanya diciptakan oleh wartawan. 2022 kita mengenal ChatGPT, atau Generative AI, dan ini berbeda dengan internet."
"Internet, Google, sosial media, itu menarik informasi yang sudah tersedia di jaringan komputer, tetapi dia tidak menciptakan informasi baru. AI menciptakan informasi baru. Jadi kita ada jurnalis, non-jurnalis, human memproduksi informasi," ungkap Dahlan Dahi.
Baca juga: Dahlan Dahi Ingatkan Dahsyatnya Perubahan Informasi terhadap Imajinasi Kolektif Bangsa
Generative AI dan Agentic AI
Sejak November 2022 lalu, Dahlan Dahi menilai industri media sedang menghadapi satu situasi, dimana ada sebuah mesin yang juga bisa menciptakan informasi.
Bahkan mesin tersebut bisa membuat keputusan, dan terus bertumbuh menjadi semakin pintar.
Jika sebelumnya industri media harus beradaptasi dengan kemunculan Generative AI, kini sudah muncul lagi Agentic AI.
Generative AI (GenAI) berfokus pada pembuatan konten (teks, gambar, kode) berdasarkan prompt pengguna secara reaktif.
Sebaliknya, Agentic AI (AI Agen) berfokus pada tindakan otonom dan pencapaian tujuan jangka panjang melalui penalaran, perencanaan, dan pemecahan masalah multi-langkah tanpa intervensi manusia terus-menerus.
"Sejak November 2022 kita menghadapi satu situasi ada mesin yang juga menciptakan informasi. Karena mesin ini bisa membuat keputusan. Dan makin pintar-pintar. Baru saja media beradaptasi dengan Generative AI, baru belajar, baru mau paham. Kini ada satu entitas namanya Agentic AI. Apa yang dimaksud, dia seperti AI, tetapi dia lebih hebat lagi."
"Dia otonom dan memecahkan masalah. Jadi misalnya saya menggunakan Agentic AI, saya bisa setting dia untuk 'saya mau berita tentang A, kalau ada berita tentang B langsung dihapus' bisa terjadi seperti itu, karena dia otonom."
"Kalau kita menghadapi buzzer, itu human buzzer, kalau ada Agentic AI kita akan mendapatkan mesin buzzer. Coba apa yang Agentic AI bisa membantu jurnalis, kita bisa menentukan satu aturan untuk memonitor isu tertentu, tentang tokoh tertentu, pejabat tertentu, by design bisa."
"Sebelum 1998, kita datang ke pembaca membawa koran satu bandel, 16 atau 24 halaman, dan seluruh informasi dikontrol dalam media surat kabar. Tapi apa yang terjadi setelah 1998, adalah orang mencari piece by piece. Jadi tidak informasi lagi dalam satu bandel. Dan hari ini Agentic AI bisa membantu semua penggunanya untuk membaca berita yang dia suka saja. Jadi semua berita yang tidak dia suka tidak bisa tampil di dalam screen dia," jelas Dahlan Dahi.
Baca juga: Optimisme Ketua Dewan Pers di Tengah Disrupsi Digital dan AI: Publik Tetap Mencari Media Terpercaya
Informasi yang Membentuk Masyarakat dan Bangsa
Dahlan Dahi menilai, saat ini kita hidup dalam dunia yang tidak hanya mengelola dampak internet saja, tapi juga harus berhadapan dengan AI.
Diperparah lagi dengan disrupsi AI yang jauh lebih besar, daripada disrupsi yang dibawa oleh internet.