Tiga Bulan Pascabanjir Aceh, Luka Masih Basah tapi Perhatian Publik Menghilang
Di tengah luka yang belum pulih, usai 3 bulan banjir melanda Aceh perhatian publik dan atensi pemerintah justru kian meredup.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
Ringkasan Berita:
- Tiga bulan telah berlalu sejak bencana banjir, longsor, dan banjir lumpur melanda sejumlah wilayah di Aceh.
- Saat luka yang belum pulih, perhatian publik dan atensi pemerintah justru kian meredup.
- Juru Kampanye Program Trend Asia, Novita Indri menilai percakapan publik mengenai bencana Aceh meredup terlalu cepat, sementara dampak di lapangan masih sangat nyata dan berat dirasakan warga.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tiga bulan telah berlalu sejak bencana banjir, longsor, dan banjir lumpur melanda sejumlah wilayah di Aceh pada November lalu.
Namun, di tengah luka yang belum pulih, perhatian publik dan atensi pemerintah justru kian meredup.
Baca juga: Pimpinan MPR Salurkan 15 Ribu Paket Sembako & Alat Ibadah untuk 8 Kabupaten Korban Banjir Aceh
Hal tersebut disampaikan Juru Kampanye Program Trend Asia, Novita Indri, yang turun langsung ke lokasi terdampak bencana satu bulan setelah kejadian.
Ia menilai percakapan publik mengenai bencana Aceh meredup terlalu cepat, sementara dampak di lapangan masih sangat nyata dan berat dirasakan warga.
“Karena bisa dibilang sudah mulai tepatnya tiga bulan ya pasca bencana kemarin di November. Tapi kok sekarang pemberitaannya enggak ramai lagi gitu. Padahal luka dan duka yang dirasakan saudara-saudara kita di sana itu belum pulih,” ujar Novita pada diskusi virtual yang diselenggarakan LaporIklim, Selasa (10/2/2026).
Tiga Kabupaten, Luka yang Sama
Dalam kunjungannya, Novita mendatangi tiga kabupaten terdampak, yakni Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Nagan Raya.
Di Aceh Utara, tepatnya di Kecamatan Langkahan, ia melihat langsung kondisi Desa Geudumbang yang dipenuhi tumpukan kayu gelondongan besar di badan sungai.
Kayu-kayu tersebut menumpuk hingga menutupi sekitar 80 persen aliran sungai.
Ukurannya bahkan lebih besar dari tubuh orang dewasa dan terseret derasnya air bah yang datang mendadak pada malam 26 November.
Novita menyebut, kayu-kayu tersebut tidak menunjukkan ciri tumbang alami. Potongannya terlihat rapi dan mulus, menimbulkan pertanyaan serius soal asal-usulnya.
“Ini kayunya mulus banget gitu. Ini potongan kayunya sangat mulus. Jadi kayak, mohon maaf ya pak, ini bukan tumbang secara alami, tapi memang sengaja ditumbangkan,” katanya.
Tumpukan kayu juga ditemukan menutup badan jalan dan menghantam rumah warga akibat dorongan air yang datang bersamaan.
Kebun Jadi Kubangan, Rumah Tertimbun Sedimen
Kondisi serupa ditemukan di Kabupaten Pidie Jaya. Lahan kebun jagung milik warga berubah menjadi hamparan lumpur dan kayu dengan ketebalan sedimen mencapai dua hingga tiga meter.