Tiga Bulan Pascabanjir Aceh, Luka Masih Basah tapi Perhatian Publik Menghilang
Di tengah luka yang belum pulih, usai 3 bulan banjir melanda Aceh perhatian publik dan atensi pemerintah justru kian meredup.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
Beberapa bangunan, termasuk kandang kambing warga, tertimbun material banjir hingga nyaris rata dengan atap rumah.
Menurut Novita, biaya dan tenaga yang dibutuhkan warga untuk membersihkan sisa material banjir sangat besar.
Namun hingga kini, status bencana darurat nasional belum juga ditetapkan, padahal dampak yang ditimbulkan sangat masif dan berkelanjutan.
Tenda Ada, Tapi Tak Layak Huni
Saat menelusuri lokasi pengungsian, Novita menemukan tenda bantuan berwarna oranye milik BNPB yang berdiri di atas tanah berlumpur tanpa alas memadai.
Di banyak titik, tenda hanya beralaskan terpal tipis, membuat warga enggan tinggal di dalamnya.
Curah hujan yang masih tinggi pada Desember memperparah kondisi.
Akibatnya, banyak warga hanya menaruh barang di tenda dan memilih bertahan di luar atau membangun hunian darurat sendiri.
Satu bulan pascabencana, bantuan hunian sementara belum tersedia. Warga akhirnya mendirikan bedeng-bedeng seadanya dari kayu, terpal, paku, tali, atau kawat, memanfaatkan donasi masyarakat.
Situasi ini berdampak besar pada kondisi psikologis warga, terutama keluarga yang harus bertahan lama di pengungsian tanpa tempat tinggal yang layak.
Krisis Air Bersih dan Sanitasi
Di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, persoalan lain yang mencuat adalah minimnya akses air bersih. Warga terpaksa menggunakan saluran irigasi persawahan untuk kebutuhan mandi, mencuci, hingga buang air besar.
Bilik MCK darurat dibuat di dekat aliran air tersebut, dengan kondisi sanitasi yang sangat memprihatinkan. Risiko kesehatan pun mengintai, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Dua Gampong Hilang di Nagan Raya
Di Kabupaten Nagan Raya, kerusakan bahkan lebih parah. Berdasarkan dokumentasi drone dari Yayasan Apel Green, dua gampong di Kecamatan Beutong Aceh mengalami kerusakan hingga 90 persen.
Rumah-rumah warga hancur total, menyisakan tapak bangunan tanpa struktur.
Warga dari dua gampong tersebut kini mengungsi di kaki bukit, di area kebun yang tidak memiliki akses listrik. Malam hari dilalui dalam gelap total, sementara fasilitas MCK sangat terbatas.