Rektor UI Heri Hermansyah Paparkan Tantangan Masa Depan Pendidikan Tinggi di Forum Internasional
Rektor UI Heri Hermansyah, menyoroti pentingnya adaptabilitas dan integritas pendidikan tinggi di tengah gempuran era disrupsi.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menghadapi percepatan teknologi, perubahan iklim, dinamika geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai pengetahuan.
- Dalam forum Asia-Pacific Association for International Education (APAIE) 2026 di Hong Kong, Prof Heri memaparkan tiga kapasitas utama mahasiswa masa depan: adaptabilitas (berpikir kritis, kreatif, resilien).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, menyoroti pentingnya adaptabilitas dan integritas pendidikan tinggi di tengah gempuran era disrupsi.
Prof Heri menegaskan, disrupsi saat ini tak bisa dihindari.
Mulai dari percepatan teknologi, perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi global telah menjadi keniscayaan.
Oleh karena itu, kata dia, peran kampus atau perguruan tinggi kini harus berubah.
Tak cukup hanya menjadi sekadar tempat penyampai pengetahuan.
Hal itu disampaikammya saat membawakan pidato bertajuk ‘The Mandate for Future-Proofing Education’ dalam ajang internasional Asia-Pacific Association for International Education (APAIE) 2026 di Hong Kong.
Dalam forum bergengsi yang mempertemukan para pimpinan perguruan tinggi dari berbagai belahan dunia itu, Prof Heri mengisi sesi President’s Dialogue Session.
“Pendidikan tinggi harus melampaui model tradisional. Kita perlu menyiapkan mahasiswa bukan hanya untuk profesi hari ini, tetapi untuk tantangan masa depan yang bahkan belum terdefinisikan,” ujar Prof Heri, Minggu (1/3/2026).
Untuk mencetak pendidikan yang tangguh (future-proof), Rektor UI ini membeberkan tiga kapasitas utama yang wajib dimiliki mahasiswa ke depan.
Ketiga hal itu adalah adaptabilitas, pergeseran menuju pembelajaran berbasis pengalaman dan sepanjang hayat, serta rasa tanggung jawab.
Adaptabilitas, jelasnya, berfokus pada kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya juang (resiliensi) mahasiswa.
Sementara itu, pembelajaran sepanjang hayat mencakup sistem project-based learning, kolaborasi erat dengan industri, mobilitas global, serta pembentukan ekosistem re-skilling dan up-skilling yang terus-menerus.
Tak kalah penting adalah aspek tanggung jawab, di mana pertumbuhan inovasi harus selalu sejalan dengan prinsip kelestarian lingkungan dan inklusi sosial.
Menurut Prof Heri, kekuatan sejati sebuah universitas terletak pada keberagaman dan kedinamisannya. Dengan memperkuat kolaborasi regional maupun internasional, kampus dapat menyulap ancaman disrupsi menjadi sebuah peluang strategis.
“Tujuan pendidikan tinggi bukan semata menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi membentuk inovator yang lincah dan warga global yang berintegritas,” tegasnya.
Baca tanpa iklan