Amalan Sunnah Idul Fitri dari Rasulullah SAW, dari Takbir hingga Silaturahmi
Rasulullah SAW mencontohkan berbagai amalan sunnah saat Idulfitri, mulai dari takbir hingga shalat Id.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Rasulullah SAW mencontohkan berbagai amalan sunnah saat Idulfitri, mulai dari takbir hingga shalat Id.
- Umat Islam dianjurkan berhias, makan sebelum shalat, serta mempererat silaturahmi di hari raya.
- Memberi ucapan selamat juga menjadi bagian dari tradisi yang mengandung doa dan kebaikan.
TRIBUNNEWS.COM - Hari Raya Idul Fitri merupakan momen penuh kebahagiaan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Selain menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan, Idul Fitri juga menjadi waktu untuk kembali kepada kesucian, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam literatur Islam, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pertama kali merayakan Idulfitri pada tahun kedua Hijriah (624 M), tepatnya setelah peristiwa Perang Badar.
Sejak saat itu, terdapat sejumlah amalan sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam menyambut dan merayakan hari kemenangan tersebut.
Berikut dikutip dari laman resmi Kemenag, beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan saat Idul Fitri:
Baca juga: Salat Idul Fitri 21 Maret 2026 di Masjid Istiqlal: Ini Aturan, Akses Masuk, dan Area Parkir
1. Memperbanyak Takbir
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengumandangkan takbir sejak malam terakhir Ramadan hingga pagi hari 1 Syawal. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185:
: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ
Artinya, “Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 185).
Takbir Idulfitri terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir muqayyad (yang dilakukan setelah shalat) dan takbir mursal (yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja).
Tradisi ini menjadi bentuk syiar sekaligus ungkapan rasa syukur atas selesainya ibadah Ramadan.
Takbir Idul Fitri bisa dikumandangkan di mana saja, di rumah, jalan, masjid, pasar atau tempat lainnya.
Kesunnahan takbir Idul fitri dimulai sejak tenggelamnya matahari pada malam 1 Syawal sampai takbiratul Ihramnya Imam shalat Id bagi yang berjamaah, atau takbiratul Ihramnya mushalli sendiri, bagi yang shalat sendirian.
Pendapat lain menyatakan waktunya habis saat masuk waktu shalat Id yang dianjurkan, yaitu ketika matahari naik kira-kira satu tombak (+ 3,36 M), baik Imam sudah melaksanakan Takbiratul Ihram atau tidak. (Syekh Sa’id Bin Muhammad Ba’ali Ba’isyun, Busyra al-Karim, hal. 426).
Salah satu contoh bacaan takbir yang utama adalah:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
(Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 54).
Baca tanpa iklan