Pentingnya Restorasi Hutan Bakau untuk Pemulihan Lingkungan Pesisir
Indonesia memiliki sekitar 3,36 juta hektar hutan bakau, terluas di dunia, namun kehilangan rata-rata puluhan ribu hektar.
Penulis:
Muhammad Zulfikar
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Indonesia memiliki sekitar 3,36 juta hektar hutan bakau, terluas di dunia, namun kehilangan rata-rata puluhan ribu hektar setiap tahunnya akibat konversi lahan dan abrasi.
- Pentingnya komitmen untuk melakukan restorasi ekosistem mangrove.
- Restorasi lingkungan membutuhkan konsistensi dan transparansi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebuah perusahaan jasa pertambangan nasional, PT Andalan Artha Primanusa, menyatakan komitmennya untuk melakukan restorasi ekosistem mangrove dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Program ini dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi iklim berbasis di Indonesia, Jejakin.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan lingkungan pesisir di tengah meningkatnya kerusakan hutan mangrove di Indonesia.
Mengapa Bakau
Indonesia memiliki sekitar 3,36 juta hektar hutan bakau, terluas di dunia, namun kehilangan rata-rata puluhan ribu hektar setiap tahunnya akibat konversi lahan dan abrasi.
Bakau adalah sebutan umum untuk tumbuhan dari genus Rhizophora dalam famili Rhizophoraceae, yang dikenal sebagai bagian dari ekosistem mangrove di pesisir pantai.
Pohon ini memiliki akar tunjang besar yang menahan tanah, berfungsi mencegah abrasi, dan menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.
Sebagai perusahaan yang beroperasi di sektor sumber daya alam, Andalan memandang restorasi bakau bukan sekadar inisiatif CSR, melainkan bagian integral dari tanggung jawab operasional perusahaan.
"Keberlanjutan adalah bagian dari cara kami bertumbuh. Melalui inisiatif ini, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah bisnis kami juga memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan," tutur Direktur Operasional Andalan, Hanny Irawan, Sabtu (4/4/2026).
Seluruh proses restorasi akan dipantau menggunakan platform Jejakin yang menggabungkan teknologi AI dan sensor lapangan.
Setiap pohon bakau yang ditanam akan dilacak pertumbuhannya secara berkala, dengan data yang dapat diakses publik melalui dashboard terbuka.
Pendekatan ini memastikan bahwa komitmen perusahaan tidak berhenti di penanaman, tetapi terukur hingga dampak jangka panjang.
"Restorasi lingkungan membutuhkan konsistensi dan transparansi. Dengan teknologi, kita bisa memastikan bahwa setiap upaya yang dilakukan benar-benar memberikan dampak yang terukur," ujar Founder dan CEO Jejakin, Arfan Arlanda.
Di luar manfaat ekologis, program ini juga dirancang untuk melibatkan masyarakat lokal di wilayah restorasi, mulai dari proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan, sehingga menciptakan peluang ekonomi langsung bagi komunitas pesisir.
Restorasi hutan bakau sangat penting untuk pemulihan lingkungan pesisir karena mampu mencegah abrasi pantai, menyerap karbon dalam jumlah besar, serta menyediakan habitat bagi berbagai flora dan fauna.
Indonesia, dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki potensi besar menjadikan restorasi bakau sebagai strategi utama mitigasi perubahan iklim.
Baca tanpa iklan