Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Model Pembinaan Narapidana Indonesia Dilirik Dunia, Dinilai Lebih Humanis dan Efektif

Di Bangli, delegasi menyaksikan langsung berbagai program pembinaan yang dirancang untuk membangun kemandirian warga binaan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
zoom-in Model Pembinaan Narapidana Indonesia Dilirik Dunia, Dinilai Lebih Humanis dan Efektif
HO/IST/Istimewa/HO
PEMBINAN NARAPIDANA - Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto membuka The 7th World Congress on Probation and Parole 2026 di Bali. Model pembinaan narapidana berbasis kearifan lokal Indonesia mulai dilirik dunia sebagai solusi krisis pemasyarakatan global, termasuk overkapasitas dan tingginya residivisme, setelah delegasi puluhan negara meninjau langsung praktik di lapangan 

Ringkasan Berita:
  • Model pembinaan narapidana berbasis kearifan lokal di Indonesia menarik perhatian dunia karena dinilai lebih humanis dan efektif.
  • Dalam The 7th World Congress on Probation and Parole 2026, delegasi melihat langsung praktik di lapangan
  • Pendekatan ini dinilai mampu memulihkan dan menyiapkan warga binaan kembali ke masyarakat

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Model pembinaan narapidana berbasis kearifan lokal yang diterapkan Indonesia mulai dilirik dunia sebagai alternatif solusi atas krisis pemasyarakatan global, mulai dari overkapasitas hingga tingginya angka residivisme.

Perhatian itu mencuat dalam ajang The 7th World Congress on Probation and Parole 2026, ketika delegasi dari puluhan negara turun langsung meninjau praktik pembinaan di lapangan.

Tak sekadar forum diskusi, para peserta diajak melihat bagaimana pendekatan pemasyarakatan di Indonesia mulai bergeser—dari sekadar menghukum menjadi memulihkan.

Kunjungan dilakukan di Lapas Narkotika Kelas IIA Bangli serta Griya Abhipraya Dharma Laksana, Jumat (17/4/2026).

Di Bangli, delegasi menyaksikan langsung berbagai program pembinaan yang dirancang untuk membangun kemandirian warga binaan.

Mulai dari pelatihan keterampilan, unit kerja produktif, hingga layanan kesehatan yang terintegrasi dalam Sarana Asimilasi dan Edukasi.

Rekomendasi Untuk Anda

Yang menarik perhatian, pembinaan tidak berhenti pada aspek teknis. Nilai-nilai budaya lokal turut diintegrasikan untuk membentuk karakter dan kesiapan sosial warga binaan saat kembali ke masyarakat.

Kesan serupa muncul saat rombongan melanjutkan kunjungan ke Karangasem.

Di Griya Abhipraya Dharma Laksana, proses pembimbingan klien pemasyarakatan dikombinasikan dengan pelatihan vokasional dan penguatan nilai budaya, bekerja sama dengan Yayasan Pesraman Guru Kula.

Pendekatan ini dinilai memberi dimensi baru dalam sistem pemasyarakatan.

“Saya sangat mengapresiasi kunjungan ini. Ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana nilai budaya bisa diintegrasikan dalam proses pembinaan,” ujar Ayyub dari Singapore Prison Service.

Baca juga: Fakta Kafe di Kendari Lokasi Narapidana Bertemu Rekan Kerja, Supriadi Kini Dipindah ke Nusakambangan

Bagi para delegasi, model Indonesia dinilai tidak hanya membekali keterampilan, tetapi juga menyentuh akar persoalan: membangun kembali identitas, nilai, dan kesiapan sosial warga binaan.

Hal ini menjadi pembeda penting dibanding pendekatan konvensional yang lebih menitikberatkan pada hukuman.

Sebelumnya, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menegaskan bahwa paradigma pemasyarakatan Indonesia memang tengah mengalami transformasi.

“Sistem pemasyarakatan tidak lagi semata tentang pemenjaraan, tetapi juga tentang pemulihan,” ujarnya saat membuka kongres di Bali International Convention Center, 14 April lalu.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas