AI Tak Punya Tanggung Jawab Etis, Guru Besar Baru President University Ingatkan Peran Manusia
President University resmi mengukuhkan tiga Guru Besar baru dalam dua sesi terpisah sepanjang April 2026.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- President University mengukuhkan tiga profesor baru: Anton Wachidin Widjaja, Erwin Parasian Sitompul, dan Jhanghiz Syahrivar pada April 2026.
- Erwin mengingatkan risiko ketergantungan AI bagi mahasiswa, Anton menekankan integritas dalam transformasi digital UMKM, sementara Jhanghiz menyoroti pentingnya etika pemasaran dan dampak sosial bisnis.
- Jabatan Guru Besar dinilai sebagai kontribusi penting bagi ilmu pengetahuan, dengan jumlahnya masih sekitar 3 persen dari total dosen di Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - President University resmi mengukuhkan tiga Guru Besar baru dalam dua sesi terpisah sepanjang April 2026.
Dalam pengukuhan yang berlangsung pada 8 dan 21 April 2026, tiga akademisi yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Anton Wachidin Widjaja, Prof. Dr.-Ing. Erwin Parasian Sitompul, dan Prof. Jhanghiz Syahrivar.
Sorotan utama datang dari Prof. Erwin Parasian Sitompul yang menyinggung dampak masif AI terhadap cara belajar mahasiswa.
Ia mengakui teknologi seperti ChatGPT, Gemini, hingga Copilot membuat pekerjaan akademik menjadi jauh lebih cepat dan efisien. Namun, di balik kemudahan itu, tersimpan risiko serius.
"AI dapat menghitung, mengklasifikasi, bahkan memprediksi. Namun, AI tidak bertanggung jawab atas konsekuensi etis dan tidak memahami konteks sosial. Semua itu tetap menjadi peran manusia," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada AI dapat mengikis pemahaman fundamental mahasiswa.
Ia menekankan pentingnya penguasaan konsep dasar agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab.
Perkembangan AI sendiri, kata Erwin, telah mengalami lonjakan drastis dalam 25 tahun terakhir.
Dari model sederhana yang bisa dijalankan di komputer pribadi, kini berkembang menjadi sistem kompleks berbasis data besar yang mampu beradaptasi secara dinamis.
Prof. Anton Wachidin Widjaja, yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen Strategis, menyoroti pentingnya transformasi digital bagi UMKM.
Ia mengingatkan bahwa digitalisasi bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal integritas.
"Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada integritas dalam menjalankan bisnis," ujarnya.
Ia juga mengkritik pendekatan kebijakan yang kerap tidak menyentuh kebutuhan nyata pelaku usaha di lapangan.
Sementara itu, Prof. Jhanghiz Syahrivar menyoroti sisi lain dunia bisnis, yakni etika pemasaran. Dalam orasinya, ia mengingatkan bahwa pemasaran memiliki dampak sosial yang besar, tidak hanya ekonomi.
Baca tanpa iklan