Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Konsep Bela Negara Meluas, Ancaman Kini Lebih Kompleks dan Nonmiliter

Ancaman terhadap bangsa tidak lagi didominasi kekuatan militer konvensional, melainkan semakin kompleks dan multidimensional.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
zoom-in Konsep Bela Negara Meluas, Ancaman Kini Lebih Kompleks dan Nonmiliter
HO/IST/Istimewa/HO
BELA NEGARA – Pasukan Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP)  TNI membimbing peserta Bela Negara dari komunitas pengusaha Syare’a World, yang didominasi generasi kedua pelaku usaha di tengah disrupsi digital dan tekanan global. Mayjen Iwan menegaskan pentingnya disiplin, kepemimpinan, dan daya tahan sebagai kunci menjaga kesinambungan usaha di era penuh ketidakpastian 

Ringkasan Berita:
  • Komandan PPMP TNI, Mayjen Iwan Bambang Setiawan menegaskan bela negara kini menghadapi ancaman non-militer seperti disinformasi dan krisis sosial.
  • Program Bootcamp Bela Negara oleh PMPP TNI dan Syare’a World menekankan disiplin, kepemimpinan, dan ketahanan mental
  • Pendekatan ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis masyarakat sipil

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian Tentara Nasional Indonesia (PMPP TNI),  Mayjen TNI Iwan Bambang Setyawan, menegaskan bahwa konsep bela negara saat ini mengalami pergeseran signifikan seiring perubahan lanskap ancaman global.

Menurutnya, ancaman terhadap bangsa tidak lagi didominasi kekuatan militer konvensional, melainkan semakin kompleks dan multidimensional.

“Ancaman yang kita hadapi hari ini tidak selalu berbentuk fisik atau militer. Tantangan justru banyak datang dari ranah nonmiliter seperti disinformasi, radikalisme, hingga krisis sosial,” ujarnya di hadapan sekitar 500 peserta Bootcamp Bela Negara di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/5/2026).

Program tersebut merupakan kolaborasi antara Syare’a World dan PMPP TNI, yang diikuti kalangan profesional serta pengusaha muda dari berbagai sektor.

Pergeseran Makna Bela Negara

Dalam konteks tersebut, Iwan menekankan bahwa bela negara tidak lagi dapat dimaknai secara sempit sebagai upaya fisik atau militeristik.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menyebut, pendekatan baru harus mencakup penguatan karakter, kesiapan mental, serta partisipasi aktif masyarakat sipil.

“Bela negara hari ini adalah soal kesiapan individu menghadapi krisis, menjaga integritas, serta berkontribusi dalam stabilitas sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Ia menambahkan, meningkatnya keterlibatan masyarakat sipil dalam program seperti ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk menjaga keutuhan bangsa, sejalan dengan amanat konstitusi.

Baca juga: Dirjen Polpum Kemendagri: Bela Negara Harus Dimulai dari Diri Sendiri Lewat Aksi Ketahanan Pangan

Tantangan Dunia Usaha dan Generasi Muda

Menariknya, sebagian besar peserta dalam program ini merupakan generasi kedua pelaku usaha yang tengah menghadapi berbagai tekanan baru, mulai dari disrupsi digital, volatilitas ekonomi global, hingga perubahan perilaku pasar.

Dalam situasi tersebut, Iwan menilai bahwa nilai-nilai seperti disiplin, kepemimpinan, dan daya tahan menjadi faktor krusial, tidak hanya dalam konteks kebangsaan tetapi juga keberlanjutan bisnis.

“Ketahanan mental dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan adalah kompetensi yang semakin dibutuhkan, baik dalam dunia militer maupun dunia usaha,” ujarnya.

Refleksi dari Misi Perdamaian

Dalam salah satu sesi, Iwan juga membagikan pengalaman saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas