Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Momen Legislator PDIP Debat Sengit tentang Isu Kolonial di Belanda

Bonnie Triyana, menghadiri forum sejarah internasional bertajuk Tachtig Jaar na de Revolusi: Een Gedeeld Verhaal di De Balie, Amsterdam.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Momen Legislator PDIP Debat Sengit tentang Isu Kolonial di Belanda
HO/IST
DEBAT SEJARAH - Anggota Komisi X DPR Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) sekaligus sejarawan, Bonnie Triyana, terlibat debat sengit dengan peneliti sejarah Anne-Lot Hoek mengenai kolonialisme Belanda, dekolonisasi Indonesia, hingga persoalan kejahatan perang yang masih menjadi perdebatan dua negara. Hal itu terjadi dalam forum sejarah internasional bertajuk Tachtig Jaar na de Revolusi: Een Gedeeld Verhaal di De Balie, Amsterdam, Rabu (6/5/2026) waktu setempat. 

“Belanda mengumpulkan semua orang yang dianggap ada aktivitas politik atau resistensi, dan menempatkan mereka di kamp di seluruh pulau. Ada banyak kejahatan, pembunuhan, itu sangat kejam,” ujarnya.

Namun, Anne juga menyoroti kecenderungan masyarakat Belanda melihat orang Indonesia hanya sebagai korban atau bagian dari pemerintah.

“Di Belanda, kita selalu memiliki tendensi untuk melihat orang Indonesia sebagai pemerintah atau sebagai mangsa. Tapi itu pada dasarnya berarti mereka bukan kita yang sama,” ucap Anne.

Sementara itu, Bonnie mempertanyakan sikap pemerintah Belanda yang dinilainya belum sepenuhnya meminta maaf atas kolonialisme di Indonesia.

“Sejarah Indonesia mengakui kekerasan terlalu besar tapi kita tidak pernah membicarakan tentang kejahatan perang Indonesia. Negara pemerintah minta maaf hanya untuk 1945-1946. Tapi mereka tidak minta maaf untuk kolonialisme,” tegas Bonnie.

Anne menyatakan sepakat dengan kritik tersebut. Menurutnya, banyak sejarawan masih enggan menggunakan istilah “kejahatan perang” dalam konteks kolonialisme karena dianggap terlalu politis.

“Jika kita tidak menggunakan terma ini, kita memberikan perasaan bahwa negara barat dalam konteks kolonial tidak mampu melakukan kejahatan perang, hanya yang lain bisa melakukannya,” kata Anne.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika ditanya moderator mengenai permintaan maaf Raja Belanda kepada Indonesia, Bonnie menyebut langkah itu penting meski belum cukup.

“Saya merasakan apology adalah langkah penting. Sebagai orang Indonesia, saya akan mengatakan lumayan atau langkah bayi,” ujarnya.

Anne juga menyoroti nasib komunitas Maluku yang pernah bertempur di pihak Belanda namun kemudian merasa ditinggalkan.

“Mereka telah dikhianati dua kali,” kata Anne.

Menutup diskusi, Bonnie menekankan pentingnya pertukaran generasi muda dan keterbukaan arsip sejarah sebagai jalan memperbaiki hubungan Indonesia dan Belanda.

“Saya pikir kita harus mempromosikan aktivitas seperti ini. Pertukaran. Itu cara terbaik untuk memperkuat hubungan dan juga memahami masa lalu antara Indonesia dan Belanda,” tandasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas