NU Salurkan Daging Kurban Pakai Besek Bambu dan Daun Pisang
Penggunaan wadah ramah lingkungan ini dilakukan sejak 2019 untuk mengurangi sampah plastik sekaligus memberi edukasi ekologis kepada masyarakat
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Muhammad Zulfikar
Ringkasan Berita:
- Nahdlatul Ulama melalui NU Care-lazisnu kembali menyalurkan daging kurban menggunakan besek bambu dan daun pisang atau daun jati sebagai bagian dari program “green kurban”.
- Penggunaan wadah ramah lingkungan ini dilakukan sejak 2019 untuk mengurangi sampah plastik sekaligus memberi edukasi ekologis kepada masyarakat.
- Selain menjaga kesegaran daging, penggunaan besek juga membantu meningkatkan ekonomi pengrajin bambu di daerah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nahdlatul Ulama (NU) melalui NU Care-Laziznu secara konsisten menyalurkan daging kurban kepada masyarakat dengan menggunakan wadah ramah lingkungan seperti besek bambu dengan alas daun pisang atau daun jati sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Direktur Eksekutif NU Care-Laziznu, Riri Khariroh, menyampaikan bahwa penggunaan besek bambu dan daun sebagai wadah distribusi daging kurban telah dilakukan sejak 2019.
Baca juga: Polemik 1.098 Sapi Kurban Prabowo, Pengamat: Sejak Kapan Presiden Berkurban Menggunakan Dana APBN?
Menurutnya, wadah tersebut juga mudah didaur ulang.
“Kami menggunakan unsur dari alam yaitu besek dan daun. Kurban ini adalah kurban yang ramah lingkungan, atau green kurban,” ujar Riri di Rumah Potong Hewan (RPH) Perumda Dharma Jaya, Cakung, Jakarta Timur, Kamis (28/05/2026).
Ia menjelaskan tradisi penggunaan besek bambu telah berlangsung sekitar tujuh tahun terakhir sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat.
“Kami menggunakan besek bambu kurang lebih sekitar tujuh tahun terakhir, karena kami melihat bahwa kita semua juga harus ada unsur edukasinya kepada masyarakat bahwa program-program yang kaitannya dengan program sosial-keagamaan maka unsur-unsur supaya tidak merusak lingkungan, itu tetap kita jaga,” katanya.
Riri mengungkapkan penggunaan bahan alami untuk distribusi daging kurban juga dilakukan oleh jaringan NU Care-LAZISNU di berbagai wilayah Indonesia.
“Itu juga diikuti oleh NU Care-Laziznu yang lain di daerah. Di daerah-daerah pakai besek bambu, atau cukup pakai daun jati dan pakai daun pisang yang itu mudah didapat di daerah,” tuturnya.
Menurutnya, penggunaan besek bambu maupun daun juga dinilai lebih baik dalam menjaga kualitas dan kesegaran daging dibandingkan penggunaan wadah plastik.
“Daging itu kalau ditaruh di daun pisang ataupun juga di daun jati kondisinya pasti akan lebih fresh dibandingkan dengan wadah plastic, yang mungkin di situ ada mikro-mikro plastik yang itu sebenarnya sangat berbahaya,” lanjutnya.
Selain mengurangi penggunaan plastik, Riri menilai kebijakan tersebut dapat memberikan dampak ekonomi bagi para pengrajin besek di berbagai daerah.
Baca juga: KH Marsudi Syuhud: Sapi Kurban Banpres Pakai APBN Sah Secara Syariat dan Konstitusional
“Ya, penggunaan besek bambu juga dapat meningkatkan ekonomi bagi pengrajin besek, ini cukup banyak diapresiasi,” ucapnya.
Sebagai bentuk keseriusan menjalankan program kurban ramah lingkungan, NU Care-LAZISNU menginstruksikan seluruh jaringannya di tingkat daerah, juga masjid hingga majelis taklim, untuk mengurangi penggunaan plastik selama distribusi daging kurban.
“Kita sudah instruksikan di seluruh NU Care-Laziznu daerah, majelis taklim, atau di masjid-masjid, semua kita instruksikan bahwa program kurban dari NU Care-Laziznu ini harus ramah lingkungan dan mengurangi sampah,” pungkasnya.