Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

5.000 Pemuda dari Berbagai Daerah Kumpul di Jakarta, Suarakan Semangat Persatuan Indonesia

Gema Pemuda 2026 dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan pemuda, pemerintah, organisasi masyarakat, hingga mitra internasional.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: willy Widianto
Editor: Willem Jonata
zoom-in 5.000 Pemuda dari Berbagai Daerah Kumpul di Jakarta, Suarakan Semangat Persatuan Indonesia
HO/IST
GEMA PEMUDA 2026 - Riuh suara ribuan anak muda memenuhi Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, sepanjang akhir pekan hingga awal Juni 2026. Di tengah parade budaya, pertunjukan seni, diskusi lintas sektor, hingga pawai obor nasional, semangat persatuan yang pernah melahirkan tonggak sejarah bangsa kembali dihidupkan. Melalui Gema Pemuda 2026. 

“Semua hadir untuk membimbing generasi penerus bangsa agar siap menghadapi berbagai tantangan masa depan,” ujarnya.

Momentum Gema Pemuda 2026 yang bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila juga dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali semangat Kongres Pemuda Pertama yang digelar pada 1926.

Penasihat Gema Pemuda 2026, Utje Gustaaf, mengatakan masih banyak masyarakat yang lebih mengenal Sumpah Pemuda 1928 dibanding Kongres Pemuda Pertama yang justru menjadi pondasi awal lahirnya persatuan pemuda Indonesia.

“Kita sering fokus pada Sumpah Pemuda 1928. Padahal, Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 merupakan fondasi awal persatuan pemuda Indonesia. Dalam situasi penjajahan yang sulit, para pemuda mampu bersatu. Semangat itulah yang ingin kami bangkitkan kembali untuk memperkuat persatuan dan kemandirian ekonomi bangsa,” ujar Utje.

Puncak kegiatan pada 1 Juni diwarnai pertunjukan pencak silat dari berbagai daerah, Pawai Obor Nasional bertajuk “Satu Obor, Satu Tekad” bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), hingga workshop pembuatan lampu hias berbahan pipa pralon dan produk ramah lingkungan.

Bagi penyelenggara, tujuan utama kegiatan tersebut bukan menghadirkan seremonial semata, melainkan menciptakan ruang yang membuat program pemberdayaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Acara ini bukan untuk seremonial pejabat, tetapi untuk masyarakat. Kami ingin diskusi berlangsung santai, efisien, dan menghasilkan manfaat nyata. Pemuda harus bersatu tidak hanya dalam semangat, tetapi juga melalui karya yang bermanfaat bagi Indonesia,” pungkas Sinda.

Rekomendasi Untuk Anda

(Tribunnews.com/ Willy Widianto)

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas