Sejarah dan Penjelasan Mengenai Rangkaian Tradisi Hari Raya Galungan
Hari Raya Galungan merupakan perayaan suci umat Hindu, terdapat beberapa rangkaian dan tradisi dalam merayakannya, simak penjelasannya berikut ini.
Penulis:
Oktaviani Wahyu Widayanti
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Hari Raya Galungan adalah perayaan suci umat Hindu yang melambangkan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan).
- Perayaan ini diawali dengan berbagai tradisi, seperti Tumpek Wariga, Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Penyekeban, Penyajaan, dan Penampahan Galungan.
- Rangkaian Galungan ditutup dengan Hari Raya Kuningan yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur dan ungkapan syukur kepada Tuhan.
TRIBUNNEWS.COM – Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari suci penting bagi umat Hindu terkhusus di wilayah Bali.
Perayaan ini jadi simbol kemenangan Dharma atau kebenaran melawan Adharma yang berarti kejahatan atau kebatilan.
Galungan ini merupakan rangkaian tradisi yang biasanya berlangsung selama beberapa hari.
Terdapat berbagai tradisi yang memiliki makna filosofis dan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta ungkapan syukur kepada Tuhan.
Tahun ini, perayaan hari raya galungan jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026.
Baca juga: Makna Hari Raya Galungan bagi Umat Hindu yang Diperingati Hari Ini 17 Juni 2026
Sejarah Hari Raya Galungan
Mengutip dari buleleng.bulelengkab.go.id, Hari Raya Galungan dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan sistem kalender Pawukon yang digunakan masyarakat Hindu, Bali.
Galungan dipercaya sebagai momentum kemenangan Dharma melawan Adharma dalam kehidupan manusia.
Berdasarkan ajaran Hindu, Bali, pada saat Galungan para leluhur turun ke dunia untuk mengunjungi keluarganya.
Maka umat Hindu mempersiapkan berbagai persembahan dan upacara keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Secara etimologis, kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuno yang bermakna kemenangan.
Sementara dari bahasa Jawa kuno, Galungan memiliki arti bertarung.
Nilai utama yang diajarkan dalam perayaan ini adalah tentang pentingnya menegakkan kebenaran, mengendalikan hawa nafsu, dan menjaga keseimbangan hidup.
Diperkirakan Hari Raya Galungan sudah dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia sebelum populer di Pulau Bali.
Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804.
Umat Hindu di Bali biasanya merayakan Galungan dengan bersembahyang di Pantai.
Baca juga: Kalender Jawa 1 Suro 2026, Makna di Balik Weton Rabu Kliwon dan Wuku Galungan