Tribun Otomotif

Vektor Kerja Sama dengan Universitas Sebelas Maret untuk Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik

PT VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR atau disebut Vektor) menjalin kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta

Penulis: Lita Febriani
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Vektor Kerja Sama dengan Universitas Sebelas Maret untuk Kembangkan Baterai Kendaraan Listrik
Tribunnews/HO/Setpres/Agus Suparto
Ilustrasi: Presiden Joko Widodo melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara, PT HKML Battery Indonesia, di kawasan Industri Karawang, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021) pagi. Proyek ini merupakan realisasi investasi konsorsium LG dan Hyundai yang terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution. Tribunnews/HO/Setpres/Agus Suparto 

Laporan Wartawan Tribunnews, Lita Febriani

TRIBUNNEWS.COM - PT VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR atau disebut Vektor) menjalin kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik.

Penandatanganan ini merupakan tahap lanjutan bagi kedua pihak dalam pengembangan teknologi baterai, mulai dari nickel processing, recycling hingga komersialisasi produk baterai.

Direktur Utama VKTR Gilarsi W. Setijono, mengatakan kemitraan ini akan dikhususkan kepada pengembangan battery material mulai dari bijih nikel menjadi P-CAM (Precursor Cathode Active Material), P-CAM menjadi CAM (Cathode Active Material), CAM menjadi cell baterai, hingga proses daur ulang baterai yang habis masa pakainya.

Baca juga: Kawal Pasang Listrik Baru untuk Warga Miskin, Anggota Komisi VII DPR: Semoga Tidak Sering Mati Lampu

"Selain itu, kami VKTR bersama UNS juga terus mempererat kerja sama dengan PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya) dalam pengembangan baterai dari module to pack dan termasuk yang lebih utama adalah pengembangan Battery Management System (BMS)," tutur Gilarsi, Kamis (1/12/2022).

Yang dimaksud dengan battery materials adalah bahan–bahan yang terkandung dalam baterai yang bertugas mengubah energi listrik dan menyimpannya dalam bentuk energi kimia.

Sementara itu, Precursor Cathode Active Material (P-CAM) adalah campuran logam hidroksida dari nikel, kobalt dan senyawa lain yang membentuk katode baterai.

"Sedangkan Cathode Active Material (CAM) adalah bahan katoda baterai berupa campuran pCAM dan Lithium. Inilah bagian penting yang mendorong kinerja, menjaga keamanan, dan menentukan efisiensi biaya sebuah baterai lithium-ion," terang Gilarsi.

Ke depan, kedua pihak terbuka untuk memperluas kooperasi ini dengan mitra baru lainnya, demi dapat menunjang percepatan pengembangan teknologi baterai di Tanah Air.

Pihak UNS nantinya mendapatkan dukungan fasilitas laboratorium penelitian di bidang teknologi baterai, pendanaan, peralatan, serta komponen material untuk joint development.

"Sedangkan kami, VKTR antara lain akan mendapatkan tenaga peneliti, mahasiswa serta sumber daya lainnya untuk memperdalam riset pada ruang lingkup yang disepakati," jelas Gilarsi.

Ketua PUI-PT TPEL UNS Agus Purwanto, mengemukakan pihaknya menyambut baik peningkatan status kerja sama kedua institusi.

Baca juga: Baterai yang Digunakan Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid Berpeluang untuk Penuhi Pasar Ekspor

"Kami berharap, rencana dan aksi kami ke depan akan semakin konkrit dan solid hingga dapat mencapai target-target yang telah ditetapkan," ungkap Agus.

Agus menambahkan, kerja sama strategis antara UNS dan VKTR ini merupakan cara efektif untuk memperkuat budaya inovasi dikampusnya.

"Kerja sama ini menjadi momentum penting bagi kami dalam menumbuh-kembangkan budaya inovasi di UNS. Lebih strategis lagi, peran kami sebagai unsur dunia akademis yang bersinergi dengan dunia usaha, insyaAllah juga akan tercatat dengan tinta emas yaitu bahwa kami menjadi salah satu pelaku penting dalam proses pembangunan dan pengembangan ekosistem industri elektrifikasi di Indonesia," ucap Agus.

Baca juga: Jalin Kerjasama, CATL Bakal Pasok Baterai Lithium-Ion ke EV Daihatsu

Gilarsi menilai, saat ini teknologi baterai masih sangat terbuka untuk dipelajari dan dikembangkan.

Keterbatasan teknologi baterai saat ini ada di dua aspek, yakni aspek performa dan aspek harga bahan baku yang relatif mahal.

"Jika dua hal ini bisa diatasi, kami yakin upaya pengembangan teknologi baterai akan maju pesat. Jika ditinjau lebih jauh, ada dua hal yang patut diperhatikan dalam aspek performa, yaitu kemampuan baterai dalam menghantarkan energi, serta banyaknya energi yang dapat disimpan," ujarnya.

Gilarsi juga menegaskan tentang pentingnya produk baterai yang dihasilkan harus tetap aman selama digunakan, tahan lama, cepat dalam pengisian daya, ramah lingkungan dan murah.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas