Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Otomotif
LIVE ●

Pasar EV Makin Ramai, Garda Oto Siapkan Strategi Khusus Hitung Risiko

Seiring meningkatnya penjualan kendaraan listrik, kebutuhan perlindungan asuransi untuk segmen tersebut juga terus bertumbuh.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
zoom-in Pasar EV Makin Ramai, Garda Oto Siapkan Strategi Khusus Hitung Risiko
Tribunnews.com/Lita Febriani
ASURANSI ASTRA - Konferensi Pers Asuransi Astra di Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026). Tingkat klaim asuransi kendaraan listrik justru relatif lebih tinggi dari mobil bensin. (Tribunnews.com/Lita Febriani). 
Ringkasan Berita:
  • Seiring meningkatnya penjualan kendaraan listrik, kebutuhan perlindungan asuransi untuk segmen tersebut juga terus bertumbuh
  • Kendaraan listrik memiliki karakteristik risiko yang berbeda dibandingkan kendaraan bermesin konvensional 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masuknya berbagai merek mobil listrik (Electric Vehicle/EV) asal China ke pasar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah peta persaingan industri otomotif nasional.

Penjualan mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) di Indonesia sepanjang 2025 mencapai 103.931 unit secara wholesale. Angka ini meroket sebesar 141 persen dibandingkan tahun 2024 

Seiring meningkatnya penjualan kendaraan listrik, kebutuhan perlindungan asuransi untuk segmen tersebut juga terus bertumbuh.

Baca juga: Biaya Operasional Mulai Rp9.000 per Hari, JAECOO Hadirkan Pilihan SUV EV hingga Hybrid

Asuransi Astra melalui produk Garda Oto menyatakan telah memiliki portofolio asuransi untuk kendaraan listrik, termasuk sejumlah merek asal China yang kini mulai banyak beredar di Indonesia.

Marketing, Retail and Digital Business Director Asuransi Astra Deddy Armand mengatakan, perusahaan sebenarnya sudah menyediakan perlindungan asuransi untuk kendaraan listrik maupun mobil merek China.

"Kita sebenarnya sudah menjual produk asuransi untuk mobil China atau khususnya EV. Bahkan kita sudah punya portofolionya. Tapi sejujurnya memang tetap kita masih lebih banyak dari value chain dari ekosistem Astra. Namun demikian kita secara bertahap juga akan melihat peluang yang ada untuk lebih mengembangkan produk-produk China," tutur Deddy dalam Konferensi Pers Asuransi Astra di Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Technical and Operation Director Asuransi Astra Mulia K.B. Siregar menyatakan, pengembangan bisnis di segmen kendaraan listrik sejalan dengan strategi diversifikasi perusahaan dan prinsip customer first yang menjadi budaya kerja Asuransi Astra.

"Salah satu values yang kita usung di dalam culture kita itu adalah Customer First. Sangat besar kemungkinan bahwa orang-orang yang memiliki ICE (Internal Combustion Engine) juga memiliki EV. Salah satu strategi kita adalah diversifikasi. Jadi kalau kita merangkai ini sudah pasti bahwa kita juga akan menggarap Electric Vehicle. Ini juga adalah satu tren kalau kita lihat penjualannya meningkat relatif kuat," jelas Mulia.

Baca juga: Pengamat: Insentif EV Berbasis Nikel Perkuat Hilirisasi Industri Mineral

Mulia mengungkapkan, kendaraan listrik memiliki karakteristik risiko yang berbeda dibandingkan kendaraan bermesin konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE).

Berdasarkan pengalaman yang dimiliki Asuransi Astra hingga saat ini, tingkat klaim kendaraan listrik justru relatif lebih tinggi.

"Moment of truth bagi asuransi itu adalah apakah mereka mampu membayar klaimnya atau tidak. Secara konsep preminya harus cukup untuk risikonya. Di sini menjadi menarik mengenai EV ini. EV ini menunjukkan claim experience yang relatif lebih tinggi daripada ICE," ujar Mulia.

Oleh karena itu, perusahaan terus melakukan penyesuaian dalam penetapan premi dan pengelolaan risiko agar tetap dapat memberikan perlindungan yang optimal kepada nasabah sekaligus menjaga kesehatan bisnis.

Ke depan, Garda Oto akan terus mengembangkan bisnis di segmen kendaraan listrik, tetapi dengan pendekatan yang terukur dan mempertimbangkan berbagai faktor risiko serta dinamika pasar.

"Jadi yang kita lakukan tentunya adalah bagaimana menjembatani kebutuhan customer, memastikan bahwa kita juga melakukan pricing yang memadai untuk menjamin bahwa kita bisa memenuhi janji kita untuk membayar klaim pada saat itu dibutuhkan. Jadi apakah kita akan masuk? Ya kita akan masuk, tapi kita akan masuk dengan calculated risk. Kita juga akan baca bagaimana kompetisi di market, memastikan juga bahwa kita memberikan value yang terbaik kepada kita punya pelanggan," terang Mulia.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas