Sudah Lolos PTN, Kok Malah Merasa Salah Jurusan?
Banyak siswa lebih fokus pada target lolos PTN favorit tanpa benar-benar memahami jurusan yang dipilih.
Editor:
Garudea Prabawati
TRIBUNNEWS.COM - Tidak sedikit mahasiswa yang berhasil masuk kampus impian, tetapi justru kehilangan semangat belajar setelah beberapa semester.
Bukan karena tidak mampu mengikuti perkuliahan, melainkan karena merasa salah memilih jurusan.
Fenomena ini masih cukup sering terjadi. Banyak siswa lebih fokus pada target lolos PTN favorit tanpa benar-benar memahami jurusan yang dipilih.
Ada yang memilih jurusan karena sedang tren, memiliki passing grade tertentu, hingga ikut-ikutan teman agar memiliki lingkungan perkuliahan yang sama.
Akibatnya, sebagian mahasiswa mulai merasa tidak cocok setelah menjalani dunia kuliah secara langsung. Rasa jenuh, kehilangan motivasi, hingga muncul perasaan “salah jurusan” pun menjadi hal yang cukup umum terjadi.
Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, bahkan pernah menyebut sekitar 87 persen mahasiswa di Indonesia merasa salah memilih jurusan kuliah.
Lalu, bagaimana cara menghindari kondisi tersebut?
Kenapa Banyak Mahasiswa Merasa Tidak Cocok dengan Jurusannya?
Fenomena salah jurusan masih menjadi persoalan yang cukup sering terjadi di dunia pendidikan.
Data populer tahun 2017 dari ahli psikologi pendidikan Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur, menyebut sekitar 87 persen mahasiswa di Indonesia merasa salah memilih jurusan kuliah.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian yang dikutip dari Corona: Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikolog, Keperawatan dan Kebidanan (2024).
Penelitian tersebut menunjukkan sebanyak 42,2 persen mahasiswa mulai menyadari dirinya salah jurusan setelah tiga bulan menjalani kuliah.
Sementara 30 persen lainnya baru menyadari setelah satu semester perkuliahan.
Ada banyak faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi. Sebagian siswa memilih jurusan karena tekanan orang tua, mengikuti teman, atau hanya melihat label “jurusan favorit”.
Tidak sedikit pula yang memilih jurusan semata berdasarkan peluang lolos SNBT tanpa memahami isi perkuliahan maupun prospek kerja di bidang tersebut.
Kurangnya pemahaman terhadap minat dan kemampuan diri juga menjadi penyebab yang cukup umum.