Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Lebih Akrab dengan Gadget, Anak Indonesia Ketinggalan Dalam Membaca Buku

Data The Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah.

Lebih Akrab dengan Gadget, Anak Indonesia Ketinggalan Dalam Membaca Buku
puspen tni/puspen tni
Perpustakaan Satgas Yonif 125/Simbisa sambangi anak-anak Kampung Sota, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua. Selasa (11/8/2020). Kehadiran perpustakaan keliling ini, diharapkan dapat memupuk dan meningkatkan minat membaca anak-anak yang berada di perbatasan, apalagi ditengah situasi pandemi Covid-19. (TRIBUNNEWS/PUSPEN TNI) 

Laporan wartawan Wartakotalive.com, Lilis Setyaningsih

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Membaca adalah inti dari pendidikan.

Sayangnya budaya membaca di Indonesia masih sangat rendah.

Data The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan, budaya membaca di Indonesia termasuk yang paling rendah dari tahun ke tahun.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengatakan untuk mengejar kemampuan membaca saja, kita butuh 45 tahun, dan mengejar ketertinggalan Sains, dibutuhkan waktu 75 tahun.

Satria Dharma, penggagas Gerakan Literasi Sekolah yang sudah dimulai sejak 2005 dan saat ini sudah menjadi program nasional mengatakan, perlu ada kesadaran akan pentingnya penguasaan literasi membaca sejak dini, oleh semua pihak.

“Reading is the heart of education. Anak yang tiap hari sekolah tapi tidak membaca, sebenarnya dia tidak mendapat pendidikan. Tidak ada gunanya guru berbicara dan mengajar setiap hari, karena dengan hanya mendangar maka anak-anak tidak mendapat pendidikan,” jelasnya di acara bincang dengan tema Manfaat Storytelling Untuk Perkembangan Karakter Anak, Rabu (30/9/2020).

Dampak dari budaya literasi yang rendah, menurut Satria Dharma, bisa dilihat dari status Indonesia sebagai pengirim buruh migran terbesar.

TKI Indonesia sudah mencapai 9 juta.

“Karena kemampuan literasi kita rendah, kita tidak mampu menggerakkan roda perekonomian negara kita sendiri,” jelas Dharma.

Halaman
1234
Editor: Theresia Felisiani
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas