Taubat di Gerbang Ramadan
SEBENTAR lagi Ramadan tiba, bulan penuh berkah, bulan yang dilipatgandakan amal kebaikan, afdhal-nya melebihi seribu bulan.
Editor: Anita K Wardhani
Dalam satu hadis Rasulullah saw mengingatkan bahwa tatkala Allah menciptakan makhluk, Allah telah menuliskan dalam kitab catatan-Nya yang berada di sisi-Nya di ‘arasy bahwa sesungguhnya “kasih saying-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR. Muslim dari Abi Hurairah).
Taubat adalah sebuah keniscayaan untuk menghapus kealpaan yang dilakukan manusia. Taubat akan mengantarkan manusia menjadi ringan dalam melakukan kebaikan, terasa takut dalam mengerjakan dosa dan maksiat. Bertaubat juga dapat berarti mengubah kemurkaan Allah menjadi kasih sayangNya.
Secara ringkas, taubat juga disebut dengan penyesalan (an nadmu taubat), menyesali apa yang telah dikerjakan yang menyebabkan dan mengundang murka Allah.
Ada beberapa unsur yang harus dipenuhi dalam taubat yaitu menyesali dan berhenti berbuat dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, jika dosa tersebut berkaitan dengan manusia, maka unsur lain yang harus terpenuhi adalah mendapat kemaafan dari siapa pun yang terdhalimi.
Begitu pentingnya taubat, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membahasnya secara detail dalam satu bab, yaitu Bab Taubat (jilid 4). Imam Al Ghazali menyebutkan ada tiga komponen yang terangkai dalam taubat, yaitu pengetahuan (al ‘ilmu), keadaan (hal), dan perbuatan (fiil). Berbekal pengetahuan, kita akan tahu bagaimana mudhratnya berbuat dosa, bagaimana dosa itu mendindingi manusia dari kasih sayang Allah.
Pengetahuan ini akan mengantarkan manusia memahami bahwa dia benar-benar ia harus taubat, harus meninggalkan segala sesuatu yang memisahkan dirinya dengan yang dicintainya itu.
Oleh sebab itu, jika kita benar-benar memahami akan pentingnya taubat, maka mencari ilmu (belajar) bagaimana bertaubat dengan benar adalah sebuah keharusan.
Bertanya dengan para alim ulama adalah hal pokok dalam menyelaraskan taubat kita agar sesuai dengan syariat.
Taubat sejatinya tidak dilihat dari fashion kita yang sekarang berubah menjadi agamis, tidak diukur dari gaya kita yang sudah religius, sementara hasrat kita masih berkeinginan melakukan kemungkaran.
Sementara penyesalan masih belum menghampiri jiwa kita, sehingga kita masih bangga dengan dosa, masih bangga dengan menindas kaum lemah, masih menggangap hebat karena berhasil membodohi masyarakat bodoh.
Imam Sahal bin Abdullah Al-Tusturi mengatakan bahwa taubat itu menggantikan sesuatu yang tercela dengan kebaikan, demikian salah satu indikatornya.
Dalam kitab Jauharut Tauhid, Syekh Ibrahim Al-Laqani menyatakan dosa besar bagi siapa saja yang mengulur waktu untuk bertaubat, sebab taubat adalah kewajiban bagi setiap muslim yang berdosa. Satu petuah Lukmanul Hakim kepada putranya:
“Hai anakku, jangan engkau tangguhkan taubatmu, sesungguhnya maut itu akan datang tiba-tiba.”
Pemahaman keliru
Persepsi salah yang berkembang dalam masyarakat dewasa ini yang menganggap bahwa taubat hanya milik mereka yang lanjut usia, ketika usia masih muda, tenaga masih kuat seolah-olah legal melakukan perbuatan dosa, sebab taubatnya di hari tua. Ini adalah pemahaman yang keliru.